Tasikmalaya, MNP – Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada pekan ke-11 BRI Liga I 2022/2023 yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan Malang berakhir ricuh, sedikitnya 127 orang meninggal .
Pasca laga tersebut mantan Bobotoh tahu 1995 angka bicara, salah satunya Bobotoh Tasela (Tasikmalaya Selatan) Deni Herdiani warga Cibeunying Desa/kecamatan Karangnunggal kabupaten Tasikmalaya.
“Rivalitas hanya 90 menit, selanjutnya setelah itu kita saudara satu Nusa satu Bangsa satu Bahasa,” ungkapnya kepada MNP, Minggu (02/10/2022).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, sekarang itu suporter harus bergabung demi kemajuan sepakbola Indonesia, kapan maju kalau masih banyak oknum suporter yang seperti ini.
“Dulu saya Bobotoh fanatik, saya rela dari Karangnunggal pergi ke Senayan untuk melihat tim kesayangan waktu itu Final antara Persib vs Petrokimia Gersik tahun 1995, waktu itu Persib menjadi juara,” ungkapnya.
Deni rela berjalan kaki untuk menyaksikan laga final, sesekali memberhentikan mobil truk, karena yang penting sampai Senayan. Itu, saking ngefans terhadap Tim kebanggaan Jawa Barat.
“Saya juga nekat dari tribun atas turun menggunakan spanduk, pada waktu itu saya mengikat beberapa spanduk hanya ingin nonton di paling depan, karena kebetulan saya paling atas, pada waktu itu saya tidak takut celaka yang terpenting demi Persib,” pungkasnya.
Terpisah Bedong warga kelurahan Cijujung kelurahan Sukaraja kabupaten Bogor eks Bobotoh Jurig Kebon Raya meminta, jadilah Suporter yang proporsionak.
“Karena rivalitas hanya 90 menit selanjutnya Dulur, yang rugi itu siapa? tentunya Tim dan PSSI, bahkan kerugian Negara,” jelas Bedong.
Oknum Suporter tidak akan sadar kejadian seperti ini berdampak pada kerugian Tim kebanggaannya seperti sanksi dari Komdis PSSI atau federasi sepakbola dunia.
“Ayo kita samakan persepsi sesama suporter, biar masyarakat menikmati permainan sepakbola Indonesia yang kian hari semakin menunjukkan progres positif,” ajaknya
Kata Bedong, sepakbola diciptakan, bukan untuk permusuhan, tapi seharusnya menjadi pemersatu bangsa, jadi bergabunglah para suporter Indonesia.
“Jangan sampai ada permusuhan-permusuhan lagi. Ini bukan lagi zamannya barbar seperti dulu, jangan bangga menjadi suporter yang akhirnya mencoreng nama baik klub sendiri,” tandasnya. (Sn).
![]()









Tinggalkan Balasan