TASIKMALAYA, MNP – Permasalahan sampah kembali mencuat dan menjadi sorotan publik di Kota Tasikmalaya. Tumpukan sampah yang terlihat berserakan di sejumlah titik strategis.
Salah satunya di Jalan Swaka serta akses masuk menuju Pasar Cikurubuk, Kecamatan Mangkubumi, menghadirkan pemandangan yang kontras dengan citra Tasikmalaya sebagai kota berhawa sejuk dan memiliki lingkungan yang relatif alami.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga memantik keprihatinan akan rendahnya kesadaran dari beberapa masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, ST., MP., menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata-mata disebabkan oleh kelalaian pemerintah daerah.
DLH, menurutnya, telah berulang kali melakukan pembersihan serta memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Namun, upaya tersebut kerap berhadapan dengan perilaku tidak bertanggung jawab dari segerintil masyarakat yang masih mengabaikan dampak lingkungan dari tindakannya.
“Bukan warga sekitar yang membuang sampah di lokasi tersebut, melainkan pejalan kaki dan pengguna jalan yang melintas dengan seenaknya melempar kantong plastik berisi sampah dari kendaraan, terkadang di trotoar bahu jalan juga,” ujar Feri melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (19/1/2026), di sela-sela rutinitas monitoring lingkungan di Kota Tasikmalaya.

Ia juga mengungkapkan bahwa keterbatasan tenaga kebersihan serta armada pengangkut sampah menjadi tantangan tersendiri bagi DLH dalam menjaga kebersihan kota secara optimal.
Meski demikian, DLH bersama tim terus melakukan monitoring dan operasi kebersihan secara intensif demi memastikan wajah kota tetap bersih dan representatif.
Namun Feri menekankan, keberhasilan menjaga kebersihan kota tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Peran serta masyarakat menjadi faktor kunci yang tidak tergantikan.
“Kesadaran masyarakat adalah kunci utama. Seberapa sering pun kami membersihkan, jika perilaku membuang sampah sembarangan masih terus terjadi, maka masalah ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Lebih jauh, Feri mengingatkan bahwa dampak sampah tidak hanya terbatas pada bau tak sedap dan rusaknya keindahan kota. Sampah yang dibuang sembarangan berpotensi menyumbat saluran air dan memicu banjir, terutama saat musim hujan.
Selain itu, tumpukan sampah dapat menjadi sarang penyakit yang membahayakan kesehatan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit berbasis lingkungan lainnya.
Dalam pernyataannya, Feri mengajak seluruh warga Kota Tasikmalaya untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Keindahan alam dan kualitas udara yang masih relatif bersih merupakan anugerah yang patut dijaga bersama, bukan justru dirusak oleh perilaku tidak disiplin.
“Mari kita bersama-sama menciptakan Kota Tasikmalaya yang indah dan sedap dipandang mata. Alam dan udara di kota ini masih sangat alami. Namun jika kita sendiri yang merusaknya, maka kota tercinta ini akan dipenuhi polusi dan pemandangan yang tidak lagi menyejukkan,” pungkasnya.
Persoalan sampah di Tasikmalaya kini bukan sekadar isu kebersihan, melainkan cerminan kesadaran kolektif warganya.
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kota ini, momentum tersebut diharapkan menjadi titik balik untuk membangun budaya peduli lingkungan, demi masa depan Tasikmalaya yang lebih bersih, sehat, dan bermartabat.
![]()
Penulis : Arrie Haryadi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan