Tasikmalaya, MNP – Taman Dadaha, yang dikenal sebagai salah satu ikon pusat aktivitas publik di Kota Tasikmalaya, kini justru dipenuhi tumpukan sampah yang mengganggu kenyamanan masyarakat.
Sumber masalah ini berasal dari TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) Dadaha yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya, Rabu (02/07/2025).
Saat ditemui awak media, Miftah (25), Tenaga Harian Lepas (THL) di DLH Kota Tasikmalaya, menjelaskan, penumpukan sampah yang terjadi saat ini disebabkan oleh adanya mogok operasional pengangkutan sampah sehari sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini akibat kemarin kendaraan pengangkut sampah tidak beroperasi karena kehabisan BBM. SPBU yang biasanya menjadi mitra pengisian di Jalan Cisumur Kawalu kini sudah tidak bekerja sama lagi dengan DLH, sehingga armada tidak bisa beroperasi,” jelas Miftah.
Kondisi ini menuai kritik dari warga, salah satunya Aep Saepuloh, mantan Ketua RT sekaligus aktivis kebersihan lingkungan di RW 04, Kelurahan Kahuripan.
Ia menilai, keberadaan TPS 3R di jantung kota seperti Dadaha kurang tepat karena mengganggu estetika dan kenyamanan warga.
“Ini pusat kota yang jadi tempat orang olahraga, jalan-jalan, main dengan keluarga. Tapi sekarang malah disuguhi bau menyengat dan pemandangan sampah. Pemerintah harusnya lebih peka. Kalau bisa, TPS ini dipindahkan ke lokasi seperti Benteng agar tidak terlalu terekspos publik,” tegasnya.
Aep juga mengkritisi sistem kontainer pengumpulan sampah yang dinilainya tidak efektif. Menurutnya, kontainer tersebut tidak mampu menampung sampah besar seperti bantal, kursi, atau barang bekas lainnya.
“Lihat saja, ada bantal guling, kursi, dan sampah besar yang tidak bisa masuk ke kontainer. Akhirnya, armada harus bolak-balik angkut karena tidak bisa sekali muat. Ini tentu boros BBM dan tambah beban biaya,” katanya.
Ia pun menyoroti kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah dan kesadaran menjaga lingkungan.
Aep berharap agar DLH bersama OPD terkait lebih aktif melibatkan RT, RW, karang taruna, dan masyarakat dalam edukasi lingkungan secara berkala.
Meski demikian, Aep menyampaikan apresiasi kepada DLH yang telah memfasilitasi kontainer sampah di wilayah RW 04 Cikalang Girang. Ia berharap seluruh elemen kota bisa bersinergi dalam mengatasi persoalan sampah.
“Kalau pemerintah, masyarakat, dan semua pihak bersatu, saya yakin Kota Tasik bisa jadi kota yang resik dan nyaman. Bukan jadi taman-nya sampah seperti sekarang,” pungkas Aep.
![]()
Penulis : DK
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan