Garut, MNP – Nasib pilu dialami Dasep Warga Kampung Sinaras RT 02/RW 04, Desa Cintaasih, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.
Diusianya yang sudah tidak muda lagi, Dasep harus banting tulang mencari nafkah dengan mengumpulkan rongsok (barang bekas, – red) untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ya, karena hanya itu usaha tanpa modal yang hanya mengandalkan niat dan kemampuannya mencari paku atau besi bekas di saluran air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski tidak seberapa dalam menghasilkan uang, namun Dasep tetap bersyukur bisa tanggungjawab memenuhi nafkah keluarga.
Di rumahnya yang sangat sederhana, bahkan dikategorikan tidak layak huni, Dasep tinggal bersama istri dan ketiga anaknya.
Mirisnya lagi, rumah tinggalnya yang kecil tersebut berada di atas saluran air/selokan, bahkan nyaris roboh.
Kondisi atap bocor, dinding lapuk, dan dapur yang hanya menggunakan tungku kayu bakar, semakin menambah kekhawatiran akan risiko kebakaran atau terpaan angin, hujan dan ancaman banjir.
Kepada wartawan, Dasep dan keluarganya hanya dapat pasrah pada keadaan, di tengah-tengah kesulitan ekonomi yang menderanya.
Anak pertama yakni Opik bekerja sebagai buruh harian, sehingga penghasilan pun jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Apalagi harus membangun rumah yang layak dan memenuhi kebutuhan dasar seperti sanitasi dan air bersih.
Minimnya fasilitas sanitasi membuat mereka harus bergantung pada tetangga untuk mandi, atau menampung air hujan.
Di tengah kesulitan yang dialami, Dasep dan keluarganya belum pernah menerima bantuan yang signifikan dari pemerintah, baik di tingkat desa maupun kecamatan.
Padahal, Dasep semestinya layak menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH), tapi sering kali bantuan tersebut tidak sampai pada mereka.
Hal ini membuat kondisi mereka semakin sulit. Kendati demikian, ia berharap pemerintah dapat mencium keberadaannya sehingga memberikan bantuan yang berarti buat dia dan keluarganya.
![]()
Penulis : Aep
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan