BARITO TIMUR, MNP — Asap masih perlahan mengepul di sela-sela batang yang hangus, menebarkan bau menyengat yang menyesakkan dada.
Di atas hamparan tanah yang kini berwarna kelabu, berdiri para pemilik kebun dengan mata menerawang kosong, tak percaya pada apa yang terlihat di depan mata mereka.
Kebun karet yang selama bertahun-tahun mereka rawat, yang setiap pagi mereka datangi untuk menyadap getah penafkah keluarga, kini tinggal puing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Demikian pula pohon sawit yang baru saja mulai berbuah, dan rimbunan tanaman nenas yang sebentar lagi siap dipanen. Semuanya tak tersisa. Ludes dilalap api yang datang begitu cepat.
Di antara keheningan yang memilukan, terdengar suara lirih yang memecah kesunyian: “Apa salah saya? Apa dosa saya, sehingga sumber penghasilan keluarga saya berubah menjadi abu?”
Pertanyaan sederhana itu terucap dari bibir yang gemetar, dari hati yang hancur melihat hasil kerja keras bertahun-tahun musnah dalam sekejap mata.
Karhutla bukan sekadar cerita tentang hutan dan lahan yang terbakar. Bukan sekadar gumpalan asap yang menghalangi pandangan mata.
Di balik kepulan kabut asap yang pekat, ada kisah nyata yang dirasakan jutaan jiwa. Dampaknya menjalar luas, menembus berbagai aspek kehidupan masyarakat sehari-hari.
Jalan yang biasa dilewati kini berbahaya karena jarak pandang yang terbatas. Kendaraan melaju lambat, bahkan kadang harus berhenti sejenak, sehingga distribusi barang dan kebutuhan pokok menjadi terhambat.
Harga kebutuhan pun ikut terdampak, membebani warga yang sebenarnya sudah cukup tertekan.
Udara yang kita hirup pun tak lagi segar. Batuk-batuk dan sesak napas menjadi keluhan yang terdengar di mana-mana, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.
Namun yang sering luput dari perhatian adalah dampak yang tak kasat mata: kecemasan, gelisah, hingga tekanan batin yang mendalam.
Melihat apa yang menjadi harapan masa depan hilang begitu saja, beban di pundak masyarakat terasa semakin berat.
Secara ekonomi, kerugian yang dialami sungguh besar. Tanaman yang butuh waktu bertahun-tahun untuk tumbuh, tak akan bisa diganti dalam waktu singkat.
Artinya, ada celah panjang yang harus dijalani tanpa pendapatan tetap. Kehilangan bukan hanya soal materi, melainkan juga hilangnya kepastian untuk menyambung hidup hari esok.
Ratapan para pemilik kebun ini adalah cerminan bahwa Karhutla bukan sekadar urusan lingkungan. Ia adalah masalah kemanusiaan yang menyentuh langsung sendi kehidupan masyarakat.
Setiap kepulan asap yang terbang ke angkasa, membawa serta harapan yang luruh dan air mata yang jatuh diam-diam di tanah kelahiran mereka sendiri.
Semoga kita semua dapat lebih peka, tidak sekadar menonton dari jauh, tetapi benar-benar bergerak bersama menjaga bumi kita, agar tak ada lagi yang harus bertanya dengan getir di ujung luka: “Apa salah saya?”
![]()
Penulis : Adi Suseno
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan