Kades Maipe Tegur Perkawinan di Bawah Batas Usia Minimum, Aspek Perlindungan Anak Disorot

Selasa, 22 September 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

BARITO TIMUR, MNP – Kepala Desa Maipe, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Sutranata, memberikan teguran keras atas berlangsungnya perkawinan pasangan yang belum memenuhi batas usia minimum perkawinan sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.

Sutranata menyatakan keberatan dan menyayangkan adanya perkawinan ketika salah satu calon mempelai belum mencapai usia 19 tahun.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata menyangkut acara perkawinan, tetapi juga kepatuhan terhadap hukum serta perlindungan hak dan masa depan pasangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami keberatan dan sangat menyayangkan adanya perkawinan di bawah batas usia minimum. Ini harus sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegas Sutranata, Selasa (22/9/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun MNP, mempelai pria Registo Yordanus berusia 20 tahun dan merupakan warga Desa Balawa. Sementara mempelai perempuan berinisial CHL berusia 18 tahun dan berasal dari Desa Pulau Patai. Keduanya melangsungkan perkawinan di Desa Maipe.

Menurut kades Maipe, Di sinilah persoalan hukumnya menjadi penting.

UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menetapkan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita telah mencapai usia 19 tahun. Ketentuan tersebut berlaku sama bagi laki-laki maupun perempuan.

Artinya, CHL yang masih berusia 18 tahun belum memenuhi batas usia minimum perkawinan.Namun, dari perspektif UU Perlindungan Anak, persoalannya harus ditempatkan secara presisi.

UU Nomor 35 Tahun 2014 mendefinisikan anak sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.Dengan usia 18 tahun, CHL tidak lagi masuk kategori anak berdasarkan definisi tersebut.

Karena itu, peristiwa tersebut lebih tepat disebut perkawinan di bawah batas usia minimum perkawinan, bukan perkawinan anak dalam pengertian status usia menurut UU Perlindungan Anak.

Meski demikian, usia 18 tahun belum otomatis membuat perkawinan tersebut memenuhi syarat usia berdasarkan UU Perkawinan.

Calon mempelai yang belum berusia 19 tahun memerlukan dispensasi kawin dari pengadilan. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019 juga secara khusus mengatur pedoman mengadili permohonan dispensasi kawin.

Dengan demikian, salah satu pertanyaan hukum yang perlu dijawab dalam peristiwa di Desa Maipe adalah: apakah sebelum perkawinan berlangsung telah terdapat penetapan dispensasi kawin dari pengadilan?

Jika dispensasi tersebut ada, maka aspek legalitas perkawinan harus dilihat berdasarkan penetapan pengadilan dan proses pencatatan perkawinannya.

Sebaliknya, apabila tidak ada dispensasi sementara salah satu calon mempelai belum berusia 19 tahun, maka pemenuhan persyaratan usia perkawinan patut dipertanyakan.

Di sisi lain, perlindungan terhadap anak tetap menjadi perhatian apabila dalam suatu perkawinan terdapat pihak yang masih berusia di bawah 18 tahun.

UU Perlindungan Anak menegaskan kewajiban perlindungan terhadap hak anak, termasuk hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta memperoleh perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Sutranata menegaskan, pemerintah desa perlu memastikan setiap proses perkawinan di wilayahnya berlangsung sesuai ketentuan hukum.

Teguran yang disampaikan bukan sekadar persoalan sosial, tetapi menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan persyaratan hukum dalam melangsungkan perkawinan.

Kini bola berada pada aspek administrasi dan legalitas: apakah perkawinan tersebut telah memenuhi seluruh persyaratan hukum, termasuk keberadaan penetapan dispensasi kawin bagi calon mempelai yang belum mencapai usia 19 tahun.

Loading

Penulis : Yulius Yartono

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Respons Aduan Warga, Polsek Dramaga dan Forkopimcam Sita 1.792 Botol Miras di Kedai Jamu
GOR Sukapura Dadaha Jadi Saksi Persaingan 8 Tim Voli Terbaik di Sri Puspa Cup 2
Ribuan Guru PGRI Kota Tasikmalaya Semarakkan Fun Run HUT ke-81 dan Hari Guru Nasional 2026
ITF Ar-Raniry Resmi Menjadi Lembaga Amil Zakat Tingkat Provinsi
Diduga Selingkuh dan Coba Suap Wartawan, Kepala SPPG Dramaga Babakan Berdalih ‘Friendly’
Berkedok Kedai Jamu, Bisnis Miras Bebas Beroperasi Diduga Akibat Main Mata dengan Oknum Forkopimcam
Kisah Amin Tukang Gali Kubur: Dapat Bantuan Material Bedah Rumah dari Swadaya Desa Ciadeg
BPR Malangbong Garut Optimistis Capai Target Lewat Semangat Kebersamaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 15:05 WIB

Respons Aduan Warga, Polsek Dramaga dan Forkopimcam Sita 1.792 Botol Miras di Kedai Jamu

Sabtu, 7 November 2026 - 14:53 WIB

GOR Sukapura Dadaha Jadi Saksi Persaingan 8 Tim Voli Terbaik di Sri Puspa Cup 2

Sabtu, 7 November 2026 - 11:23 WIB

Ribuan Guru PGRI Kota Tasikmalaya Semarakkan Fun Run HUT ke-81 dan Hari Guru Nasional 2026

Sabtu, 7 November 2026 - 09:56 WIB

ITF Ar-Raniry Resmi Menjadi Lembaga Amil Zakat Tingkat Provinsi

Jumat, 6 November 2026 - 21:43 WIB

Diduga Selingkuh dan Coba Suap Wartawan, Kepala SPPG Dramaga Babakan Berdalih ‘Friendly’

Berita Terbaru

Berita terbaru

ITF Ar-Raniry Resmi Menjadi Lembaga Amil Zakat Tingkat Provinsi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 09:56 WIB