Dari Dunia Hiburan Menuju Pengabdian Desa
SUMEDANG, MNP – Nama Irvan Fauzi, yang lebih dikenal publik dengan sapaan Unang “Preman Pensiun”, selama ini lekat dengan dunia hiburan.
Kiprahnya sebagai seorang figur entertainment membuat sosoknya dikenal masyarakat melalui berbagai karya dan karakter yang diperankannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, perjalanan tersebut kini memasuki babak baru. Irvan Fauzi memilih untuk memperluas kiprahnya ke ruang pengabdian masyarakat dengan mencalonkan diri sebagai Calon Kepala Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, dalam Pemilihan Kepala Desa Serentak 2026.
Langkah tersebut menjadi perhatian tersendiri karena membawa seorang figur yang selama ini dikenal dari layar hiburan ke arena pemerintahan desa yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Keputusan Irvan Fauzi untuk maju dalam kontestasi kepala desa tidak semata-mata dipandang sebagai perpindahan profesi.
Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya untuk mengaktualisasikan pengalaman dan kemampuan yang selama ini diperolehnya di dunia entertainment ke dalam ruang pelayanan publik.
Dunia hiburan telah mempertemukannya dengan beragam karakter dan latar belakang masyarakat. Pengalaman berkomunikasi, bekerja bersama banyak pihak, serta memahami dinamika sosial menjadi modal yang ingin dibawanya ketika berhadapan dengan masyarakat desa.
Bagi Unang, pemerintahan desa memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu institusi pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat.
Pemimpin desa tidak cukup hanya memahami persoalan administrasi, tetapi juga dituntut mampu mendengarkan aspirasi warga, memahami kebutuhan masyarakat, serta membangun komunikasi yang terbuka.
Julukan “Preman Pensiun” merupakan bagian dari perjalanan Unang di dunia hiburan. Namun, popularitas sebuah karakter tidak serta-merta menggambarkan gaya kepemimpinan seseorang di kehidupan nyata.
Pengalaman di dunia seni justru dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai pentingnya komunikasi, kedisiplinan, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai situasi.
Dalam konteks pemerintahan desa, ketegasan seorang pemimpin idealnya tetap berjalan beriringan dengan kemampuan mendengar dan membangun dialog.
Karena itu, tantangan Unang bukan sekadar bagaimana mengubah citra seorang figur entertainment menjadi calon pemimpin desa, tetapi bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa pengalaman yang dimilikinya dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Desa Sayang berada di kawasan Kecamatan Jatinangor yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan cukup pesat.
Pertumbuhan kawasan pendidikan, permukiman, aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat membawa konsekuensi terhadap tata kelola pemerintahan desa.
Situasi tersebut membuat pemerintahan desa menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Persoalan kependudukan, pelayanan publik, lingkungan, ekonomi masyarakat, pemberdayaan pemuda, pendidikan, hingga pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari kebutuhan pembangunan desa yang perlu mendapat perhatian.
Dalam konteks tersebut, calon kepala desa dituntut tidak hanya memiliki popularitas, tetapi juga kemampuan membaca persoalan dan menyusun arah pembangunan yang realistis sesuai kewenangan pemerintahan desa.
Salah satu kelompok yang dinilai memiliki peran penting dalam pembangunan desa adalah generasi muda.
Bagi Unang, pemuda seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari solusi dan kekuatan pembangunan. Potensi anak muda dapat dikembangkan melalui berbagai ruang, mulai dari kegiatan sosial, olahraga, seni dan kreativitas, kewirausahaan, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Pemerintahan desa, menurut perspektif tersebut, perlu membuka ruang partisipasi yang lebih luas agar generasi muda tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi ikut terlibat sebagai subjek pembangunan.
Pendekatan semacam ini menjadi penting karena desa dihadapkan pada perubahan zaman yang semakin cepat.
Meski memiliki pengalaman dan dikenal publik sebagai figur entertainment, pencalonan dalam Pilkades memiliki karakteristik yang berbeda dengan dunia hiburan.
Popularitas dapat menjadi modal awal untuk dikenal masyarakat, tetapi kepercayaan warga tetap harus dibangun melalui rekam jejak, gagasan, integritas, komunikasi dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.
Pilkades juga bukan sekadar kompetisi popularitas. Di dalamnya terdapat proses demokrasi masyarakat desa yang harus dihormati oleh seluruh kandidat maupun pendukungnya.
Karena itu, perjalanan Unang menuju Pilkades Serentak 2026 akan menjadi ujian tersendiri: sejauh mana pengalaman di dunia hiburan mampu diterjemahkan menjadi gagasan dan komitmen yang relevan dengan kebutuhan Desa Sayang.
Kepemimpinan di tingkat desa memiliki karakter yang berbeda karena hubungan antara pemerintah dan masyarakat berlangsung sangat dekat.
Kepala desa dituntut mampu hadir bukan hanya ketika terdapat agenda resmi pemerintahan, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi persoalan sehari-hari.
Mulai dari pelayanan administrasi, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, persoalan sosial, hingga kebutuhan generasi muda membutuhkan komunikasi yang berkelanjutan antara pemerintah desa dan masyarakat.
Dalam konteks itulah, pencalonan Unang menjadi menarik untuk dicermati. Ia datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi kini mencoba memasuki ruang yang menuntut kedekatan langsung dengan masyarakat.
Perjalanan Irvan Fauzi atau Unang dari dunia entertainment menuju kontestasi kepala desa merupakan gambaran bahwa ruang pengabdian kepada masyarakat dapat diisi oleh siapa saja, sepanjang memiliki komitmen dan kesiapan untuk bekerja sesuai aturan.
Dari layar televisi menuju ruang pelayanan masyarakat, tantangan yang dihadapi tentu tidak sama.
Jika dunia hiburan menuntut kemampuan tampil dan menghibur, maka pemerintahan desa menuntut kerja nyata, tanggung jawab, transparansi, kemampuan mengelola pemerintahan serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Kini, Unang memilih membuka lembaran baru dengan maju sebagai Calon Kepala Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, pada Pilkades Serentak 2026.
Hasil kontestasi nantinya akan ditentukan oleh masyarakat melalui mekanisme demokrasi yang berlaku.
Namun, terlepas dari hasil tersebut, langkah Unang telah membuka sebuah cerita baru: seorang figur yang dikenal dari dunia hiburan mencoba membawa pengalaman hidupnya ke ruang pengabdian yang lebih dekat dengan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, jabatan kepala desa bukan sekadar tentang popularitas ataupun status. Ia adalah amanah yang menuntut keberanian untuk hadir, kesediaan mendengar, kemampuan bekerja, dan komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan