TASIKMALAYA, MNP – Semangat kreativitas dan olah rasa terpancar dari wajah ratusan siswa sekolah dasar di wilayah Kecamatan Bungursari.
Mereka berkumpul di SDN Sukamulya, Kota Tasikmalaya, untuk mengikuti ajang bergengsi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kecamatan Bungursari, Rabu (08/04/2026).
Kegiatan rutin tahunan ini menjadi panggung bagi para generasi muda untuk menunjukkan bakat terbaik mereka di bidang seni dan sastra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Pelaksana Kegiatan, Angga Maulana, mengungkapkan bahwa antusiasme sekolah pada tahun ini sangat luar biasa. Tercatat tingkat partisipasi sekolah di Kecamatan Bungursari mendekati angka 100 persen.
“Total ada 160 peserta yang berpartisipasi. Setiap sekolah rata-rata mengirimkan 10 perwakilan untuk mengisi tujuh mata lomba yang dikompetisikan, yaitu Tari, Kriya, Gambar Bercerita, Pantomim, Menyanyi Solo, Mendongeng, dan Menulis Cerita,” jelas Angga.
Ia menambahkan bahwa FLS3N bukan sekadar ajang pamer kemampuan, melainkan sarana evaluasi bagi para guru pembimbing.
“Mata lomba yang ada di sini merupakan implementasi langsung dari mata pelajaran di kelas, seperti seni teater dan seni tari. Ini menjadi tolok ukur sejauh mana pengembangan minat dan bakat murid berhasil dilakukan,” imbuhnya.
Pihak panitia berharap seleksi tingkat kecamatan ini mampu menjaring bibit-bibit unggul yang tidak hanya kompetitif di tingkat Kota Tasikmalaya, tetapi juga mampu berbicara banyak hingga ke level nasional.
“Kami selalu mencatat setiap masukan dari dewan juri sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembinaan kesenian di Bungursari setiap tahunnya,” kata Angga.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana FLS3N Kecamatan Bungursari, Cucu Juariah, S.Pd.,SD., menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah pembentukan karakter siswa. Menurutnya, seni memiliki peran penting dalam memperhalus budi pekerti anak.
“Kami ingin mencetak karakter anak agar mereka mencintai seni. Lewat seni, cita rasa anak terasah dan perasaan mereka menjadi lebih halus. Juara itu bonus, yang terpenting adalah karya dan rasa anak itu muncul,” tutur Cucu.
Ia juga berharap kegiatan ini menjadi jembatan suksesnya program 7 Pembiasaan yang dicanangkan pemerintah.
Dengan terasahnya kreativitas, diharapkan siswa tidak hanya mahir secara akademik di dalam kelas, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk berprestasi melalui karya nyata.
![]()
Penulis : Hendrik
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan