Penulis : Sultan patrakusumah VIII
Selaco International Federation
Sebagai anak bangsa patut menghormati sejarah untuk cermin dimasa kini dan masa depan. Disini saya mengingatkan berdasarkan penemuan para ahli dan sejarah
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut keterkaitan dengan masa peradaban Islam yang dibawa nabi Muhamad Saw di jajirah Arab pada saat itu.
Banyak anak bangsa yang kadang menyamaratakan masa nabi Muhammad dengan masa raja raja yang ada di daerah kita. Sebetulnya, ketika kita meneliti sejarah maka akan bisa mengambil kesimpulan.
Kita hitung dari masa Nabi Muhammad mengadakan perjanjian Hudaibiyah 6 Hijriah atau sekitar 628 Masehi . Disini kita Semua harus cerdas. Pada tahun 628 Masehi, didaerah kita saat itu siapa raja yang bertahta.
Dan disini saya akan menambahkan riwayat Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Maret 628 Masehi atau tahun ke 6 Hijriah pada masa Nabi Muhammad Saw
dan juga berikut adalah raja-raja Tarumanagara:
Jayasingawarman (358 – 382)
Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara, karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada [butuh rujukan].
Setelah Jayasingawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah. Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati (Bekasi).
Dharmayawarman (382 – 395 M) Dipusarakan di tepi kali Candrabaga.
Purnawarman (395 – 434 M). Ia membangun ibu kota kerajaan baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan dinamainya “Sundapura”. Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397 M untuk menyebut ibu kota kerajaan yang didirikannya.
Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 – 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga?) di Jawa Tengah. Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
Wisnuwarman (434-455)
Indrawarman (455-515)
Candrawarman (515-535 M).
Pada tahun 535 M terjadinya Meletus Gunung Krakatau yang sangat dasyat yang menyebabkan tsunami yang sangat besar dan berdampak pada seluruh dunia.
Suryawarman (535 – 561 M)
Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur.
Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan yang terkenal dengan Kerajaan Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Sedangkan putera Manikmaya, tinggal bersama kakeknya di ibu kota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.
Kertawarman (561 – 628) Rakeyan
Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M).
Raja Suraliman Sakti (568 – 597) putra Manikmaya cucu Suryawarman Raja Kerajaan Kendan adalah saudara sepupu Rakeyan Sancang.
Sudhawarman (628-639)
Hariwangsawarman (639-640)
Nagajayawarman (640-666)
Linggawarman (666-669)
Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Dalam tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapunta Hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya.
Tarusbawa (669 – 723 M) Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibu kota) Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa. Karena Putera Mahkota Galuh (Sena, Sanna atau Bratasena) berjodoh dengan Sanaha puteri Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh.
Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.
Kerajaan Sunda Galuh
Dan berikut juga Terkait
Padjajaran Yang membawahi berbagai kerajaan Kecil Dalam Sistem Federation
Atau: Padjajaran
Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan bercorak Hindu terbesar di Pakuan (sekarang Bogor), Jawa Barat.
Kerajaan ini didirikan pada 923 M oleh Sri Jayabhupati yang terbentang dengan luas sepertiga atau seperdelapan pulau Jawa.
Menurut peta Portugis, ibu kota kerajaan Pajajaran berada di wilayah Bogor. Sementara itu, wilayah kekuasaannya melingkupi Jawa Tengah, Jakarta, dan Jawa Barat.
Sejarah Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran mendapat puncak keemasannya saat pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi pada 1482-1521 M.
Sistem politik yang dijalankan pada masa itu adalah feudal. Dengan begitu, posisi tertinggi dikuasai oleh seseorang yang bergelar Prabu atau raja.
Agama yang dipegang adalah Hindu Saiwa. Hal ini terbukti dalam jejak peninggalannya di prasasti Kawali dan Sahyang Tapak.
Selain itu, ada pula agama Hindu Waismawa dan Budha. Ketiga agama tersebut saling beriringan dengan toleransi antar sesama.
Kehidupan ekonomi pada zaman Kerajaan Pajajaran bergantung kepada kegiatan agraris (bercocok tanam) dan perdagangan.
Pada 1597 M, Kerajaan Pajajaran runtuh karena diserang oleh Kesultanan Banten. Selain itu, terjadi pula perebutan batu penobatan oleh panglima perang kesultanan Banten, Maulana Yusuf.
Silsilah Pendiri Kerajaan Pajajaran
Selain Sri Jayabhupati sebagai pendirinya, berikut enam pemimpin yang pernah bertakhta di Kerajaan Pajajaran.
1. Raja Sri Baduga Maharaja (1482–1521)
Dia dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang memegang takhta di Pakuan. Masa pemerintahannya merupakan masa kejayaan. Banyak pembangunan yang dilakukan untuk membantu kehidupan rakyat.
2. Raja Surawisesa (1521–1535)
Terkait Selat jaoe / Selagodon/ Selacau / Selaco Saat Ini Sebagai pemilik Nomer Haritage Un 2018 Adalah
Wilayah kecil Saat itu
Di wilayah pakidulan yang batas wilayahnya Sebelah Barat Taraju berbatasan Dengan Garut Wilayah Timur Gunung Cihaurkento/ Ciulsn Cibalong saat ini berbatasan dengan Kerajaan Sukakerta atau Sukapura atau Sukaraja.
Saat ini perbatasan Selatan laut Selatan Cipatujah Perbatasan Utara.Kali Cilongan Desa Cibanteng Berbatasan Dengan Wilayah Kebataraan Galunggung atau Katumenggungan Kerajaan Suka Kerta Saat itu Yang menjadi Wilayah Independen Berdasarkan Perjanjian Antara Sehabdulmuhyi sebagai wakil dari SelatJaoe
Dengan pihak Utusan Mataram yang Diwakili Pejabat Adipati Suka Pura Yang Meneruskan Kerajaan Sukakerta Saat itu Yang Pada Akhirnya Seluruh Wilayah Kerajaan Suka Kerta Menjadi Wilayah Keadipatian Mataram Dengan Gelar Adipati Wirag dagdaha wilayahnya hanya yang dipimpin Prabu dalem patrakusuma putra menantu Daripada Prabu Surawisesa Raja Padjajaran Saat itu yang dimasa berakhirnya kekuasaan Prabu Surawisesa.
Dalam masa pemerintahannya, tidak terdapat prestasi yang diraihnya. Namun, tidak mengalami kemunduran juga. Dan Terkait Kerajaan Kecil Yang Bernama SelatJaoe Tidak Banyak Diceritakan Dalam Sejarah Dikarenakan Wilayahnya Yang Kecil Dan Kekuasaan nya hanya 40 Taun Mulai 1548 m Sampai 1589 M
Bagian Dari Padjajaran
Sebagai Pemerintahan Tertinggi Dari SelatJaoe. Dan selanjutnya Padjajaran Setelah prabu Surawisesa Dilanjutkan
Raja penjabat Ke.3
Yaitu :
3. Ratu Dewata (1535 –1543)
Pada masa pemerintahannya selama delapan tahun, terjadi banyak kekacauan. Hal ini disebabkan karena ketidakcakapannya sebagai pemimpin sehingga dia menanggalkan jabatannya.
4. Ratu Sakti (1543–1551)
Sama seperti pemimpim sebelumnya, Ratu Sakti hanya menjabat selama delapan tahun. Dalam pemerintahannya, tidak ada kemajuan dan dia tidak disukai rakyat karena sifat borosnya.
5. Ratu Nilakendra (1551–1567)
Awal kemunduran Kerajaan Pajajaran dimulai saat masa pemerintahannya. Ketika terjadi penyerangan oleh Hassanuddin dari kerajaan Banten, Ratu Nilakendra malah melarikan diri dan melepas Prabu Nilakenra
Dan Berikut Sejarah Perjalana Islam Ke Enam Taun Hijriah (6H)
Perjanjian Hudaibiyah dan Momentum Peradaban Islam. Perjanjian Hudaibiyah memegang tempat penting dalam sejarah Islam. Pada 31 Maret memegang tempat penting dalam sejarah Islam, sebagai peringatan perjanjian yang membuka jalan bagi pengakuan kepemimpinan Nabi Muhammad. Pada 628 Masehi, 1.394 tahun yang lalu, perjanjian Hudaibiyah ditandatangani. Perjanjian itu dianggap sebagai tengara dalam sejarah Islam.
Dilansir dari laman TRT World pada Jumat (1/4/2022), perjanjian ditandatangani di desa Hudaibiyah, yang terletak sekitar sembilan mil (14,5 kilometer) di luar Makkah. Peristiwa itu terjadi enam tahun setelah Hijrah, dan umat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad sangat ingin mengunjungi Ka’bah Suci.
Selama periode ini, penyembah berhala Makkah dan Muslim mengobarkan perang tiga kali, di Badar, Uhud dan dalam Perang Khandaq. Meskipun kaum Muslim telah mengalahkan para penyembah berhala dalam dua pertempuran ini, mereka masih belum cukup kuat untuk berperang lagi melawan kekuatan sebesar itu.
Dari berbagai Rencana
yang saya susun digabungkan
tujuannya, agar pembaca mudah memahaminya. Karena banyak sekali orang yang tidak memahami
Kadangkala ada yang membandingkan Prabusiliwani sejaman Dengan Nabi Muhamad bahkan ada persi yang meyakini anak prabu Siliwangi berguru kepada Sayidina Ali.
Secara Lahiriah Suatu hal yang tidak mungkin dengan waktu yang sangat Jauh Nabi Muhammad hidup diperkirakan ada Mulai 595 M. Jelas beliau melakukan perjanjian Hudaibiyah di taun 628 M.
Sementara Prabu Siliwangi naik Tahtanya Aja 1482 M. Artinya beda waktu lurang lebih 854 tahun. Disinilah saya menyusun ulang sejarah ini untuk menambah wawasan kita semua terutama para keturunan dan penggiat budaya seni tradisi dan para pecinta sejarah kerajaan di masalalu.
Sebagai cermin saat ini dan masa depan dan saat ini kita hidup dimasa demokrasi pemerintahan Republik Indonesia .
Sebagai pemerintahan yang berkuasa saat ini yang Bertanggung Jawab atas Bangsa dan Negara.
Semoga Bermanfaat
Selaco, 23 Januari 2023
ROHIDIN SH.Pk Vlll
trust Guarante Phoenix Ina 18 lady Ofrosse
![]()









Tinggalkan Balasan