Bupati Tasikmalaya Soroti Minimnya Minat MIPA, STEM Didorong Sejak PAUD hingga SMP

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP — Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mulai memperkuat arah pendidikan berbasis sains dan teknologi.

Melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEM), pemerintah daerah ingin membentuk peserta didik yang tidak sekadar menguasai teori, tetapi juga mampu melahirkan inovasi dan menciptakan solusi atas persoalan di sekitarnya.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin saat membuka Festival STEM Jenjang PAUD, PKBM, SD, dan SMP Tahun 2026 di Aula Basement Setda Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (27/10/2026).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Cecep menyoroti kecenderungan menurunnya minat calon mahasiswa terhadap program studi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius karena penguasaan sains merupakan salah satu fondasi penting bagi kemajuan teknologi dan kemandirian bangsa.

Menurutnya, ketertinggalan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dapat membuat Indonesia terus bergantung pada produk teknologi buatan negara lain.

Pendidikan, karena itu, harus mampu menumbuhkan keberanian anak untuk bereksperimen, berpikir kritis, dan menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata.

“Jika kondisi ini dibiarkan, kita hanya akan menjadi konsumen dari produk luar negeri karena tidak produktif menciptakannya sendiri,” ujar Cecep.

Cecep menegaskan, penguatan STEM bukan hanya untuk menjawab tantangan pendidikan nasional, melainkan juga membuka peluang pengembangan potensi lokal Kabupaten Tasikmalaya.

Daerah ini memiliki sumber daya alam yang berpotensi dikembangkan, termasuk energi panas bumi dan potensi angin di wilayah Cipatujah.

Namun, pemanfaatan sumber daya tersebut membutuhkan dukungan tenaga manusia yang memiliki pengetahuan sains, keterampilan teknis, dan kemampuan mengembangkan teknologi terapan.

Karena itu, Cecep meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya memperkuat standar kurikulum agar pembelajaran STEM dapat diterapkan secara efektif sejak pendidikan anak usia dini.

Tantangannya bukan sekadar memperkenalkan istilah sains kepada siswa, melainkan membangun lingkungan belajar yang mendorong mereka memahami masalah, merancang percobaan, dan menemukan jawaban melalui proses pembelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, Wandi Herpiandi, menjelaskan bahwa STEM menggabungkan lima bidang, yakni sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika.

Integrasi tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan bernalar, logika, kreativitas, serta keterampilan memecahkan masalah.

Wandi menilai pembelajaran perlu memberikan ruang lebih luas kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan belajar tidak hanya berorientasi pada penyelesaian soal atau penguasaan materi, tetapi juga menghasilkan pemahaman dan karya yang dapat diuji.

Pendekatan problem-based learning atau pembelajaran berbasis masalah menjadi salah satu metode yang akan diperkuat.

Melalui metode ini, peserta didik didorong untuk bertanya, mencoba berbagai kemungkinan, menghadapi kegagalan, kemudian mengevaluasi hasil percobaannya.

“Melalui pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), anak-anak diberikan ruang untuk bertanya, mencoba, bahkan berbuat salah untuk kemudian berefleksi,” kata Wandi.

Selain pembaruan pendekatan pembelajaran, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan pelatihan berkala bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dalam menerapkan STEM di ruang kelas.

Pemerintah daerah juga akan mempercepat penerapan pembelajaran berbasis masalah sebagai bagian dari upaya meningkatkan capaian Rapor Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, terutama pada aspek literasi, numerasi, dan karakter peserta didik.

Meski demikian, keberhasilan program tersebut nantinya akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di sekolah.

Ketersediaan sarana pembelajaran, kesiapan guru, dukungan anggaran, serta kemampuan menyesuaikan metode dengan kondisi setiap satuan pendidika

Loading

Penulis : Soni

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Polsek Patangkep Tutui Selidiki Temuan Mayat Perempuan Lansia dengan Luka Bakar
Warga Keluhkan Proyek Drainase di Kelurahan Sukamenak, Pejabat Pemkot dan Pelaksana Bungkam
Kemendikdasmen Dorong Terwujudnya Sekolah Aman dan Berintegritas di Tasikmalaya
Dugaan Pungli di Jembatan Ciloa Jadi Sorotan, Pemkab Tasikmalaya Siapkan CCTV dan Penerangan
Berlaku Hingga 17 November, Ini Syarat Manfaatkan Program Keringanan PBB-P2 Kota Tasikmalaya
Kopi Cakbrun, Hadirkan Aroma Khas Lereng Gunung Cakarabuana, Siap Tembus Pasar Internasional
Semarak HUT ke-25 Kota Tasikmalaya: Kecamatan Kawalu Kobarkan Semangat Warga dan Gotong Royong
Kurang dari 24 Jam, Polres Bogor Berhasil Bekuk Pelaku Pembacokan Bobotoh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Polsek Patangkep Tutui Selidiki Temuan Mayat Perempuan Lansia dengan Luka Bakar

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:23 WIB

Bupati Tasikmalaya Soroti Minimnya Minat MIPA, STEM Didorong Sejak PAUD hingga SMP

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:16 WIB

Warga Keluhkan Proyek Drainase di Kelurahan Sukamenak, Pejabat Pemkot dan Pelaksana Bungkam

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Kemendikdasmen Dorong Terwujudnya Sekolah Aman dan Berintegritas di Tasikmalaya

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:05 WIB

Dugaan Pungli di Jembatan Ciloa Jadi Sorotan, Pemkab Tasikmalaya Siapkan CCTV dan Penerangan

Berita Terbaru