“Domba Adu” : Saat Ulama dan HPDKI Menyatukan Agama, Budaya dan Ekonomi Umat

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP — Melestarikan budaya tidak harus mempertentangkannya dengan agama. Sebaliknya, ketika tradisi dirawat dengan nilai-nilai keagamaan, budaya dapat menjadi jalan menuju kemaslahatan sekaligus membuka peluang kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Semangat itulah yang mengemuka dalam silaturahmi Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kabupaten Tasikmalaya bersama Forum Silaturahmi Ulama Cisayong, Minggu (18/10/2026), bertempat di Pondok Pesantren Yanfa, Desa Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Pertemuan tersebut dipimpin tuan rumah KH Jaja Jamaludin, pimpinan Ponpes Yanfa yang juga Ketua MUI Kecamatan Cisayong.

Hadir puluhan ulama dari 13 desa di Kecamatan Cisayong, Kapolsek Cisayong AKP Hasan Basri, Camat Cisayong Sutaryo, S.T., Ketua Forum Silaturahmi Ulama Cisayong KH Aan Munawar, serta Ketua HPDKI Kabupaten Tasikmalaya Asep Yuda Adikara yang didampingi pengurus HPDKI Kecamatan Cisayong, Ahmad.

Dalam suasana penuh keakraban, para ulama dan pengurus HPDKI sepakat bahwa seni budaya dan tradisi masyarakat perlu terus dilestarikan, tetapi tetap berada dalam koridor norma agama, etika sosial, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Salah satu penegasan penting dalam pertemuan itu adalah membedakan pelestarian budaya domba dengan praktik perjudian maupun adu domba yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Tradisi seharusnya menjadi ruang kreativitas, persaudaraan, dan penguatan ekonomi masyarakat, bukan justru menjadi pintu masuk bagi kemudaratan.

Islam Menghargai Budaya, Agama Menjadi Penuntun

Ketua MUI Kecamatan Cisayong KH Jaja Jamaludin menyampaikan bahwa Islam pada dasarnya menghargai budaya dan tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan akidah, syariat, akhlak, serta prinsip kemaslahatan.
Dalam perspektif Islam, budaya tidak serta-merta harus ditinggalkan hanya karena merupakan warisan leluhur.

Tradisi yang baik dapat dipertahankan, dikembangkan, bahkan menjadi sarana mempererat silaturahmi dan meningkatkan kesejahteraan.

Namun, apabila dalam praktiknya terdapat unsur perjudian, penganiayaan terhadap hewan, permusuhan, atau kemudaratan lainnya, maka bagian yang bertentangan tersebut harus ditinggalkan dan diperbaiki.

Prinsip ini sejalan dengan kaidah fikih al-‘adah muhakkamah, yakni adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum sepanjang memenuhi ketentuan syariat.

Dengan demikian, pelestarian budaya bukan berarti membenarkan semua bentuk praktik tradisi tanpa melihat nilai dan akibatnya.

KH Jaja juga menegaskan pentingnya peran ulama dalam memastikan kehidupan masyarakat tetap sejalan dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana terkandung dalam sila pertama Pancasila.

Nilai ketuhanan, menurut semangat tersebut, tidak berhenti pada pengakuan formal, tetapi perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari: menghormati sesama, menjaga ketertiban, menghindari kemudaratan, serta membangun kehidupan sosial yang berakhlak.

Agama dan Pancasila dalam konteks kehidupan bermasyarakat dapat berjalan beriringan dalam mendorong kebaikan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial.

HPDKI: Budaya Terjaga, Peternak Sejahtera

Sementara itu, Ketua HPDKI Kabupaten Tasikmalaya Asep Yuda Adikara menyampaikan terima kasih kepada para ulama Cisayong yang telah membuka ruang silaturahmi dan dialog dengan organisasi peternak.

Ia menegaskan komitmennya untuk menjalankan organisasi HPDKI sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta tidak bertentangan dengan norma-norma agama.

Menurutnya, tujuan HPDKI bukan semata-mata melestarikan seni dan budaya domba, tetapi juga mendorong kesejahteraan para peternak.

Peternakan domba memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pembibitan, penggemukan, peningkatan kualitas ternak, pengolahan hasil peternakan, hingga penyelenggaraan kegiatan budaya yang sehat dan produktif.

Potensi tersebut perlu dikelola secara terarah agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Peternak tidak hanya menjadi pelaku tradisi, tetapi juga tumbuh sebagai pelaku ekonomi yang mandiri, mampu menciptakan peluang usaha, dan memperkuat perekonomian keluarga maupun desa.

Karena itu, sinergi dengan ulama, pemerintah, dan kepolisian dinilai penting untuk memastikan bahwa kegiatan pelestarian budaya berjalan dengan baik, bermartabat, dan memberikan manfaat nyata.

Camat dan Kapolsek Dorong Domba Menjadi Kekuatan Ekonomi
Kapolsek Cisayong AKP Hasan Basri dan Camat Cisayong Sutaryo, S.T., turut menyampaikan pandangan yang sejalan mengenai pentingnya menjadikan sektor peternakan domba sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.

Dengan potensi peternakan dan tradisi domba yang dimiliki Cisayong, pengembangan sektor ini dapat membuka peluang usaha bagi peternak, pedagang pakan, pelaku transportasi, penyedia jasa, hingga usaha kecil yang tumbuh di sekitar kegiatan peternakan dan kebudayaan.

Pengembangan tersebut perlu didukung pembinaan, peningkatan kualitas ternak, tata kelola organisasi yang baik, serta kegiatan budaya yang tertib dan produktif.

Dengan begitu, pelestarian tradisi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Kapolsek Cisayong AKP Hasan Basri juga menyampaikan bahwa Polri akan selalu bersama ulama dalam menjaga dan merawat kehidupan masyarakat yang aman, nyaman, dan kondusif.

Ia menilai sinergi ulama, pemerintah, kepolisian, serta masyarakat di Cisayong selama ini telah terjalin dengan cukup baik dan perlu terus dipelihara.

Kolaborasi tersebut menjadi modal sosial yang penting. Keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan hasil dari kesadaran bersama untuk menjaga persaudaraan, menghormati aturan, serta mencegah kegiatan yang berpotensi menimbulkan konflik maupun gangguan kamtibmas.

Ulama Membimbing Moral, Budaya Menggerakkan Ekonomi
Juru bicara Ulama Cisayong, Septyan Hadinata, M.I.Kom., menyampaikan bahwa silaturahmi ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun kehidupan umat yang maslahat, khususnya di Kecamatan Cisayong.

Menurutnya, kepedulian ulama tidak hanya menyangkut persoalan ibadah, tetapi juga kehidupan sosial, pelestarian budaya, serta kesejahteraan masyarakat.

Sebagai pembimbing moral umat, ulama memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan, mengarahkan, dan memastikan bahwa aktivitas sosial maupun ekonomi tidak kehilangan pijakan etika dan nilai keagamaan.

Ia menegaskan bahwa ulama tidak sedang mempertentangkan agama dengan budaya, apalagi mematikan potensi ekonomi peternak.

Justru, melalui dialog dan silaturahmi, tradisi diharapkan dapat terus berkembang dengan arah yang lebih baik.

“Di Cisayong, yang kita dorong bukan adu domba, melainkan domba adu: Andalan Devisa Umat. Domba harus menjadi kekuatan ekonomi masyarakat, menjadi sumber penghidupan peternak, sekaligus bagian dari budaya yang dirawat dengan nilai-nilai agama,” demikian pesan yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.

Ungkapan itu menjadi penegasan bahwa persoalannya bukan terletak pada domba atau budayanya, melainkan pada bagaimana tradisi tersebut dijalankan.

Potensi peternakan dan seni budaya dapat terus dikembangkan tanpa harus memberi ruang bagi perjudian maupun praktik yang bertentangan dengan norma agama dan hukum.

Merawat Tradisi, Menjaga Akhlak, Membangun Kemaslahatan
Silaturahmi HPDKI Kabupaten Tasikmalaya dengan Forum Silaturahmi Ulama Cisayong menjadi pengingat bahwa kemajuan masyarakat tidak harus dibangun dengan mempertentangkan tradisi dan agama.

Budaya membutuhkan ruang untuk tumbuh, agama memberikan tuntunan moral, sementara pemerintah dan aparat menjaga agar kehidupan bersama berlangsung tertib dan aman.

Ketika ketiganya berjalan beriringan, potensi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan sosial sekaligus ekonomi.
Bagi Cisayong, domba bukan sekadar hewan ternak atau simbol tradisi.

Di dalamnya terdapat peluang usaha, mata pencaharian, identitas budaya, dan harapan kesejahteraan masyarakat.

Pesannya sederhana, budaya jangan dimatikan, agama jangan ditinggalkan, dan ekonomi umat jangan diabaikan.
Sebab, tradisi yang dirawat dengan akhlak bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan yang lebih maslahat bagi generasi berikutnya.

Loading

Penulis : Ist

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

SMKN 6 Garut Terima Bantuan Revitalisasi Pembangun RPS Teknik Komputer dan Jaringan
Pengacara PT SJP Buka Suara Soal Tambang, Siap Tempuh Jalur Hukum, Legalitas Dokumen Tetap Minta Diuji
Kisah Haru Dede Ari Warga Lumpuh Sejak Kecil, Famili FHF Siap Salurkan Donasi Lewat Live TikTok
Situ Gede Tasikmalaya Mengering, Pedagang Ikan Menjerit Hasil Tangkapan Anjlok
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Kuala Cenaku Tanam Jagung Pipil di Lahan 1 Hektare
PPK Cetak Sawah Sulsel di Luwi Utara Tetap Bungkam! Ada Apa di Balik Anggaran Rp11 Juta Per Hektare?
Progres Pemulihan Bencana Pakpak Bharat Dinilai Positif, Satgas PRR Siapkan Laporan untuk Presiden
Warga Perumahan Mutiara Citra Gelar Tasyakur Binikmat, Apresiasi Pembangunan Dana Reses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:47 WIB

“Domba Adu” : Saat Ulama dan HPDKI Menyatukan Agama, Budaya dan Ekonomi Umat

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:25 WIB

SMKN 6 Garut Terima Bantuan Revitalisasi Pembangun RPS Teknik Komputer dan Jaringan

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:49 WIB

Pengacara PT SJP Buka Suara Soal Tambang, Siap Tempuh Jalur Hukum, Legalitas Dokumen Tetap Minta Diuji

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Kisah Haru Dede Ari Warga Lumpuh Sejak Kecil, Famili FHF Siap Salurkan Donasi Lewat Live TikTok

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:17 WIB

Situ Gede Tasikmalaya Mengering, Pedagang Ikan Menjerit Hasil Tangkapan Anjlok

Berita Terbaru