PALANGKA RAYA, MNP — Ratusan anak muda Kalimantan Tengah menggelar aksi bertajuk “Kalimantan Masih Dibakar!” di Tugu Soekarno, Palangka Raya, Minggu (4/10/2026) malam.
Mereka mendesak pemerintah pusat mengambil langkah lebih serius menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai terus berulang setiap tahun.
Aksi yang berlangsung sekitar pukul 18.00 hingga 21.00 WIB tersebut menjadi bagian dari rangkaian Menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda melalui gerakan #BerserikatBersama edisi ke-3.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu tuntutan utama massa adalah agar pemerintah pusat segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.
Massa juga mendesak Presiden, Wakil Presiden, Kepala BNPB, para menteri, serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru dilantik untuk berkantor di Kalimantan Tengah selama 30 hari.
Tuntutan tersebut ditujukan agar para pejabat pusat tidak hanya menerima laporan mengenai karhutla dari balik meja, tetapi melihat dan merasakan secara langsung dampak kabut asap yang dialami masyarakat Kalimantan Tengah.
“Situasi ini TIDAK NORMAL,” menjadi salah satu pesan yang disuarakan dalam aksi tersebut melalui tagar #SupayaMerekaMerasakan.
Aksi dipantik oleh Virdian Aurellio dari Brand New Indonesia, Naomi Artika Simamora selaku Presiden BEM FH UPR, serta Yosafat Menteng, Gubernur BEM FISIP UPR.
Para penggerak aksi juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Kalteng, untuk ikut menyuarakan persoalan karhutla dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, panitia juga membagikan sekitar 5.000 masker secara gratis kepada peserta aksi sebagai bentuk respons terhadap persoalan kualitas udara dan kabut asap.
Desakan anak muda tersebut menunjukkan meningkatnya keresahan publik terhadap penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.
Mereka menilai persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak cukup dihadapi dengan pernyataan keprihatinan maupun penanganan sesaat ketika kebakaran terjadi.
Pesan utama yang dibawa massa adalah tuntutan agar pemerintah menghadirkan tindakan nyata, penanganan serius, serta kebijakan yang mampu mencegah karhutla berulang.
Bagi peserta aksi, pemerintah pusat perlu turun langsung melihat kondisi di lapangan dan merasakan dampak yang ditanggung masyarakat ketika karhutla kembali terjadi.
“Kalimantan Masih Dibakar!” menjadi seruan sekaligus kritik keras generasi muda Kalteng terhadap respons pemerintah dalam menghadapi persoalan karhutla yang terus berulang.
![]()
Penulis : Yulius Yartono
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan