BARITO TIMUR, MNP — Isak tangis pecah di Mapolres Barito Timur. Tema, anak Sabarnu, warga Desa Hayaping, Kecamatan Awang, Kabupaten Barito Timur, tak kuasa menahan tangis saat mendatangi kepolisian untuk memohon keringanan bagi sang ayah yang tengah menjalani proses hukum setelah ditangkap terkait kasus pembakaran ladang.
Gadis remaja yang diketahui masih menempuh pendidikan di Universitas Palangka Raya (UPR) itu datang membawa harapan agar ayahnya mendapatkan keringanan.
Di hadapan Kapolres Barito Timur, ia bahkan bersujud sembari menyampaikan permohonan agar sang ayah dipertimbangkan kondisinya sebagai tulang punggung keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Tangisnya menggambarkan beratnya kondisi yang dihadapi keluarga setelah Sabarnu harus berhadapan dengan proses hukum.
Bagi keluarga Sabarnu, aktivitas berladang bukan semata-mata pekerjaan, tetapi bagian dari cara masyarakat setempat memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Praktik berladang juga dikenal sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Namun, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar tetap memiliki konsekuensi hukum apabila dilakukan dengan cara atau dalam kondisi yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.
Keluarga berharap proses hukum terhadap Sabarnu tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi keluarga, termasuk posisinya sebagai tulang punggung keluarga.
Permohonan tersebut kini menjadi perhatian keluarga dan masyarakat yang berharap persoalan ini dapat diselesaikan dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum sekaligus konteks kehidupan masyarakat yang masih menggantungkan penghidupan dari aktivitas berladang.
Hingga berita ini ditulis, proses hukum terhadap Sabarnu masih berjalan.Yulius Yartono.
![]()
Penulis : Yulius Yartono
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan