Oleh : Asep Didi feat Radin
Menjadi bagian dari pilar keempat di suatu negara yang berbalut demokrasi ini, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Pelaku sistem dari pilar keempat di negara ini pun demikian, hanya sebatas diakui serta dibutuhkan dan digunakan, namun tidak pernah benar – benar dimuliakan, setidak tidaknya oleh tiga pilar lain dalam lingkaran negara ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di balik jargon idealisme tentang kebebasan pers dan kontrol sosial, ada begitu banyak realita yang jarang kali diketahui publik sekeliling, kerap kali terasa begitu pahit, tetapi sangat piawai ditutupi rasa manis, adalah sisi ironis mulianya.
Menjaga independensinya, kerap kali menuntut begitu banyak pengorbanan tiada batas kuantitas, sekali pun sekadar untuk tetap berdiri tegak guna bertahan hidup di tengah tekanan hidup.
Pers (Jurnalistik), dengan sebutan Insan PERS serta Jurnalis, sebagai professi serta pelaku sistemnya, itu dikenal publik sebagai pilar keempat khususnya dalam “negara demokrasi” Kita ini setlah Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif di lingkarnya. Namun fakta kepahitannya tetap dianggap diluar garis lingkar ketiga pilar lainnya.
Perannya bukan sekadar menyampaikan berita saja, namun menjadi pengawas (watchdog) bagi sekeliling ruang kehidupannya, untuk menjalankan fungsi utama sebagai kontrol sosial, dan memastikan publik sekitar lingkup kehidupannya bisa mendapat suatu informasi yang faktual, amanah, juga dapat dipertanggungjawab kan secara moral dan etika hukumnya.
Tanpa kehadiran Pers yang benar-benar loyal menjaga independensi profesi, serta profesionalismenya, resiko buruknya adalah menciptakan ruang publik yang kian mudah tercemar berbagai kepentingan manipulator, dan berbagai propaganda kekuasaan, yang acap kali mengatasnamakan publik, atau rakyat sebagai target eksploitasi keserakahan di dunia kedzaliman, disertai kemunafikan yang rela dan tega mengorbankan publik atau rakyatnya itu, sebagai Kambing Hitamnya.
Sebagai Pilar keempat di negara demokrasi ini, Pers memikul sebuah tanggung jawab sangat besar, yakni menjaga ruang publik agar tetap sehat, rasional, serta berkeadaban. Membersih kan berbagai ruang publik, dari kontaminasi berbagai polutant (penyebab polusi) yang semakin kompleks.
Namun didalam realitanya, menjaga independensinya saja, diuntut harga teramat mahal bahkan berhadapan beragam resiko, yang amat besar, berat dan terkadang mematikan beragam jalan usahanya hingga hidupnya sendiri, sebagai resiko dari tupoksi profesi jurnalisnya.
Seringkali terjadi, seorang wartawan terpaksa harus menghadapi tekanan atau intimidasi, sebagai upaya pembungkaman kiprahnya itu, ketika kebenaran mulai menyentuh ke kepentingan pihak-pihak tertentu, yang merasa kepentingannya itu terusik, oleh kiprah tupoksi jurnalis yang menjalankan tupoksi secara profesional dan independen.
Kesadaran itulah yang dulu memicu, begitu banyaknya orang yang memilih belajar sebagai penulis, lalu terjun bebas ke dunia Jurnalistik sebagai Jurnalis. Bukan sekedar mengejar profesi itu, apalagi gengsi duniawi, namun panggilan Jiwa nya yang menguatkan niatnya, untuk menjadi bagian dari penjaga nurani publiknya.
Seorang sastrawan besar, mahestro karya sastra di masanya dulu, Pramoedya Ananta Toer, pernah sering kali menyampaikan, suatu wejangan sarat filsafatnya, yang dikenal tajam, kepada para pecinta karya tulisnya sebagai pujangga saat itu. Yang isinya menyatakan bahwa, untuk bisa melihat kenyataan, maka menulis lah seperti Wartawan serta berorasi/pidato lah seperti Orator para Demonstran.
Di antara kedua sikap tadi, di ketajaman menulis dan keberanian bersuara, juga kebenaran akan menunjuk kan atau memperlihat kan wajah aslinya. Dan di sana lah ironisme sering muncul memperlihatkan kesejatian diri seseorang, yakni ketika kebenaran diungkap, yang terlihat justeru bukan lagi keberanian untuk banyak pihak (publik), melainkan pantulan kemunafikan dari cermin dirinya sendiri yang selama ini disembunyikan, di balik jabatannya, di balik kekuasaannya, semuanya, hanya retorika moral yang justeru menenggelamkan moralitas sejatinya.
Oleh karena itu, menjadi seorang wartawan sejati nya bukan sekedar untuk menulis berita. Wartawan harus dijadikannya pilihan untuk berdiri, di garis yang sering kali sepi, garis yang memisahkan antara fakta dengan kepentingan data atau apapun, antara fakta keberanian dan data sarat kemunafikan kolaboratif. Yang mungkin bisa terjadi antara Wartawan, dengan para Bangsawan yang tak Negarawan, atau bersama Usahawan yang tidak mau Dermawan.
![]()









Tinggalkan Balasan