TASIKMALAYA, MNP – Kekecewaan mendalam menyelimuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Tahun 2027 Kelurahan Sukarindik, Kecamatan Bungursari, Kamis (22/01/2026).
Kursi yang dipersiapkan untuk para anggota DPRD Dapil 1 kembali kosong, sebuah pemandangan yang diklaim warga telah terulang selama tiga tahun berturut-turut.
Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, forum sakral perencanaan pembangunan ini nihil dari kehadiran satu pun anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekecewaan warga memuncak saat sesi musyawarah, di mana sejumlah peserta secara terbuka melayangkan protes dan mempertanyakan komitmen para wakil rakyat terhadap pembangunan di wilayah Sukarindik.
Teriakan “Kemana Wakil Kita?” sempat terdengar dari barisan peserta, menandakan kejenuhan masyarakat yang merasa suaranya tidak lagi didengar oleh mereka yang duduk di kursi legislatif.
Ketua LPM Kelurahan Sukarindik, Habib Usman, mengaku sangat menyayangkan sikap para anggota dewan. Ia membandingkan dengan kelurahan lain di Kecamatan Bungursari yang setidaknya masih dihadiri oleh perwakilan legislatif.
“Sangat disayangkan, ini sudah tahun ketiga anggota DPRD Dapil 1 tidak hadir. Padahal di kelurahan lain minimal ada satu orang yang datang. Entah kenapa di Sukarindik selalu begini? Kami sudah undang lewat Sekwan, bahkan Pak Lurah sudah menghubungi lewat WhatsApp pribadi, tapi kenyataannya tetap kosong,” keluh Habib dengan nada kecewa.
Ia pun berencana akan mendatangi langsung para anggota dewan untuk menagih perhatian agar tidak terjadi ketimpangan pembangunan antara Sukarindik dengan kelurahan lainnya.
Doni Siswanto Ketua Pokmas yang juga hadir bersama Ketua Ranting Pemuda Pancasila (PP) Sukarindik menyatakan bahwa kehadiran dewan sangat krusial sebagai penyambung lidah masyarakat. Ia mengingatkan para legislator agar tidak menganggap remeh absennya komunikasi fisik di lapangan.
“Ini sudah hampir tiga tahun tidak dihadiri anggota DPRD Dapil 1. Kami mohon sebagai masyarakat agar anggota dewan merespon cepat aspirasi ini. Ingat, masyarakatlah yang memilih bapak-ibu sekalian. Jangan sampai ini menjadi bom waktu ke depannya,” tegasnya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, ketidakhadiran tanpa alasan atau konfirmasi tertulis sangat melukai perasaan warga, mulai dari tingkat RT hingga RW, yang telah meluangkan waktu untuk menyusun skala prioritas pembangunan.
Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Asep perwakilan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Sukarindik. Secara khusus, pihaknya bersama Lurah telah berupaya keras menggaet sponsor (PT Wings) untuk memeriahkan acara guna menunjukkan bahwa Sukarindik memiliki nilai lebih dan kemandirian.
“Kami menggandeng sponsor PT Wings untuk kegiatan ini dengan harapan bisa memperlihatkan potensi Sukarindik di depan para anggota dewan. Kami ingin menyajikan sesuatu yang lebih dari sekadar makanan ringan biasa. Namun, momen penting untuk menyampaikan aspirasi langsung ini sirna karena mereka tidak menyempatkan waktu,” tuturnya.
Kritik paling pedas datang dari Ibu Adet perwakilan kader yang hadir. Mereka menyindir perilaku anggota dewan yang dinilai hanya antusias menyambangi warga saat musim pemilihan saja.
“Kami sangat kecewa. Harusnya kalau berhalangan hadir ada konfirmasi atau mengutus perwakilan. Momen musrenbang ini tempat kami mengadu, lalu harus kemana jika dewannya tidak ada? Jangan cuma waktu kampanye saja mereka semangat datang ke kami,” cetus salah seorang kader di lokasi acara.
Menyikapi itu, Camat Bungursari, Sodik Sunandi, mencoba meredam suasana dengan berpikiran positif. Ia menduga para anggota dewan sedang menghadiri Musrenbang di wilayah Cihideung atau Tawang yang jadwalnya berbarengan. Meski begitu, ia tetap mendorong Lurah dan tokoh masyarakat untuk tidak menyerah dalam melobi anggaran.
“Saya berterima kasih kepada anggota DPRD, karena sejauh ini di Bungursari Pokir-nya luar biasa banyak. Pesan saya, komunikasi konstituen dengan anggota dewan harus ditingkatkan lagi. Kalau hanya mengandalkan Dana Kelurahan yang terbatas, pembangunan akan susah berjalan maksimal,” ujar Sodik.
Sementara itu, Lurah Sukarindik, Ayi Rahmatilah, melaporkan bahwa musyawarah telah menyepakati 30 usulan prioritas yang terdiri dari 10 bidang sarana prasarana, 10 bidang pemberdayaan, dan 10 bidang aspirasi masyarakat. Seluruh usulan ini nantinya akan diinput ke dalam sistem SIPD melalui kecamatan.
“Usulan sudah direkap dan disepakati bersama. Harapan kami, semoga di tahun 2027 nanti lebih banyak usulan yang terealisasi. Mengenai dewan, masyarakat memang sangat mengharapkan kehadiran mereka secara fisik sebagai bentuk dukungan moral dan politik,” ungkap Ayi.
Ketidakhadiran wakil rakyat ini meninggalkan catatan merah bagi warga Sukarindik. Mereka berharap ke depannya para “wakil rakyat” tersebut tidak hanya datang saat masa kampanye, tetapi hadir di saat masyarakat sedang merumuskan masa depan pembangunan wilayahnya.
![]()
Penulis : Momon
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan