Tasikmalaya, MNP – Dalam Sidang Paripurna memperingati Hari Jadi ke-24 Kota Tasikmalaya, Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi memberikan sambutan dengan menggunakan bahasa Sunda.
Hal ini dilakukan karena, menurutnya, milangkala merupakan peristiwa kebudayaan yang harus dihormati dan dimaknai dengan kearifan lokal, Jumat (17/10/2025).
Dalam sambutannya, Dedy Mulyadi menguraikan tiga landasan utama pembangunan yang harus menjadi pedoman pemerintah daerah, yaitu landasan filosofi, sosiologi, dan teknis administrasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Landasan Filosofi – Membangun Karakter Manusia Menurut Dedy, pembangunan harus dimulai dari pembentukan karakter manusia.
Ia menekankan pentingnya perubahan mentalitas masyarakat, dari ketergantungan menjadi kemandirian.
“Kudu ngarobah mentalitas ti mental biar tekor asal sohor jadi mentalitas kemandirian. Pendidikan kudu efisien, henteu kudu mahal. Negara anu nanggung biayana,” ujarnya.
Dedy juga menyoroti pentingnya pendidikan berkarakter, di mana hubungan antara murid dan guru harus didasari oleh kepercayaan.
Ia mengusulkan agar orang tua menandatangani surat pernyataan menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada guru selama di sekolah.
“Guru kudu boga keberanian. Lamun anak nakal, kudu ditegur, diarahkeun. Mendingan di ceprét waktu leutik tibatan jadi maling waktu geus gede,” tegasnya.
Lebih lanjut, pendidikan tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual. Dalam pandangan Sunda, orang yang Cageur, Bageur, Beneur, Singeur akan memiliki kekuatan sejati karena keseimbangan spiritual adalah puncak dari kecerdasan Landasan Sosiologi – Kemandirian Ekonomi dan Budaya Lokal
Dalam aspek sosiologi.
Dedy menekankan pentingnya memahami konteks budaya dan potensi lokal. Kota Tasikmalaya, katanya, harus bangga dan menjadikan kekayaan budaya seperti payung geulis, bordir, dan rajutan sebagai identitas ekonomi dan kebanggaan daerah.
“Payung geulis kudu katingali geulisna. Bordir jeung rajutan jadi tren mark. APBD Kota Tasik kudu muter di Kota Tasik. Beli produk urang sorangan supaya lahir ékonomi kerakyatan,” ujarnya.
Menurutnya, administrasi harus menjadi alat untuk membangun, bukan dijadikan tujuan atau sarana untuk berbuat curang.
“Administrasi téh alat, ulah dipuja. Ayeuna loba ASN pemuja administrasi, padahal hasil audit alus tapi rakyatna can sejahtera. Puncak tina audit téh kudu ‘kasejahteraan publik’,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar dokumen perencanaan seperti RAB, KUA-PPAS, dan RAPBD benar-benar bermanfaat dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menanggapi kasus keracunan makanan MBG yang menimpa siswa di Kota Tasikmalaya, Dedy Mulyadi memberikan otoritas penuh kepada Wali Kota untuk menutup sementara dapur penyedia makanan tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh.
“Makanan anu dikonsumsi ku murid kudu dipastikan aman. Sumber bahan pangan kudu jelas. Ulah nepi ka ngarugikeun kaséhatan siswa,” katanya.
Ia juga meminta dilakukan investigasi teknis, terutama terhadap bahan makanan yang dibeli dari pasar besar, agar kejadian serupa tidak terulang.
Melalui sambutan yang penuh nilai budaya dan filosofi tersebut, Gubernur Dedy Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan Jawa Barat harus berpijak pada nilai kemanusiaan, kemandirian ekonomi, serta integritas administrasi yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat.
![]()
Penulis : Gobreg
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan