Tasikmalaya, MNP – Pemandangan tak elok kembali terlihat di Jalan Suaka Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Sampah-sampah berserakan di sepanjang jalur tersebut, seolah-olah tidak ada tempat yang lebih layak untuk membuangnya selain badan jalan.
Ironisnya, kondisi ini justru terjadi di tengah upaya rutin Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya yang tak kenal lelah membersihkan wilayah perkotaan setiap harinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena ini memperlihatkan betapa masih banyak manusia yang abai, bahkan bisa dibilang tidak berbudi, ketika berhadapan dengan persoalan sederhana: menjaga kebersihan lingkungan.
Bukannya memanfaatkan fasilitas tempat sampah atau menunggu petugas pengangkut, sebagian warga justru memilih jalan pintas dengan membuang sampah sembarangan.
Padahal, tindakan itu bukan hanya mencoreng wajah kota, tetapi juga merugikan orang lain, terutama masyarakat yang setiap hari melintas di jalan tersebut.
Kita tentu tidak bisa selalu menggantungkan tanggung jawab pada petugas kebersihan.
DLH boleh saja rajin menyapu dan mengangkut, namun bila mental sebagian warga tetap keras kepala, hasil kerja petugas akan sia-sia.
Kota bersih bukan hanya soal kinerja pemerintah, melainkan buah dari kesadaran bersama.
Pertanyaan mendasarnya: sampai kapan kita mau terus menjadi masyarakat yang menormalisasi kebiasaan buruk? Jalan raya bukanlah tong sampah berjalan.
Setiap kantong plastik, botol bekas, atau sisa makanan yang dibuang sembarangan adalah cermin dari kegagalan individu dalam memahami arti kebersihan dan tanggung jawab sosial.
Lebih menyedihkan lagi, perilaku ini seringkali dilakukan dengan sengaja. Ada orang yang membuang dari jendela kendaraan, ada pula yang sengaja menaruh kantong hitam di pinggir jalan dengan dalih “nanti juga diangkut petugas.”
Pola pikir semacam ini jelas menunjukkan egoisme. Mereka merasa telah selesai dengan urusannya begitu sampah lepas dari genggaman, tanpa peduli pada akibat yang menimpa lingkungan dan orang lain.
Padahal, kesadaran kecil seperti menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan bisa membawa dampak besar.
Jalan yang bersih menciptakan suasana nyaman, mengurangi risiko banjir akibat saluran tersumbat, dan tentu saja membuat wajah kota lebih ramah dipandang.
Opini ini ingin menekankan bahwa masalah kebersihan tidak akan selesai hanya dengan menambah armada kebersihan atau memperbanyak jam kerja petugas.
Solusi yang paling mendasar adalah perubahan pola pikir masyarakat. Harus ada rasa malu ketika membuang sampah sembarangan.
Harus tumbuh kesadaran bahwa menjaga kebersihan bukan hanya demi diri sendiri, tapi demi kota yang kita tinggali bersama.
Oleh karena itu, perlu langkah nyata. Edukasi dan teguran mungkin tidak cukup. Sudah saatnya pemerintah kota mempertimbangkan sanksi tegas bagi pembuang sampah sembarangan.
Tanpa penegakan aturan, kebiasaan buruk ini akan terus berulang. Kita butuh efek jera agar masyarakat belajar menghargai lingkungan.
Kota Tasikmalaya adalah rumah besar kita. Bila kita ingin rumah ini bersih, sehat, dan indah, maka tidak ada alasan untuk bersikap abai.
Jangan biarkan ego pribadi menodai kerja keras petugas kebersihan. Karena sejatinya, kota yang bersih bukan hasil sapu dan pengangkut semata, melainkan cermin dari warganya yang berbudaya.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan