Garut, MNP – Proyek pembangunan jalan rabat beton di ruas Jalan Banjarwangi, Singajaya, dan Peundeuy, Kabupaten Garut, menuai sorotan dari warga setempat.
Pembangunan yang merupakan bagian dari program perbaikan jalan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Kabupaten Garut ini dinilai warga tidak memenuhi standar kualitas karena diduga dikerjakan secara manual.
Proyek senilai puluhan miliar rupiah yang dikucurkan Pemkab Garut untuk perbaikan jalan di 42 kecamatan ini awalnya disambut antusias.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga berharap jalan yang baik akan meningkatkan akses, mobilitas, dan kesejahteraan. Namun, kekecewaan muncul ketika melihat proses pengerjaan di lapangan yang disinyalir asal-asalan.
Pembangunan Diduga Manual dan Tanpa Standar
Ucu Tutun Bahtiar, seorang tokoh masyarakat dan Ketua Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Partai Demokrat Kecamatan Peundeuy, mengungkapkan kekhawatirannya.
“Ini ruas jalan kabupaten, masa pengerjaannya seperti membangun jalan gang atau jalan lingkungan,” ujarnya belum lama ini.
Ia menduga pengerjaan tidak sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan meragukan kualitas mutu betonnya.
“Pekerjaan dilakukan secara manual, bahkan dengan kaki untuk mengaduk material. Kami ragu standar mutu K200 atau bahkan K175 bisa tercapai,” tambah Ucu.
Selain itu, ia juga menyoroti tidak adanya papan informasi proyek dan kurangnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi sebagian pekerja.
“Ini patut diduga mengabaikan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Kami berharap pembangunan di Peundeuy dilakukan secara profesional, proporsional, dan berkualitas agar tidak ‘seumur jagung’,” tegasnya.
Penjelasan UPT PUPR Peundeuy
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) PUPR Kecamatan Peundeuy, Fery Irawan, menjelaskan bahwa kewenangan UPT terbatas pada monitoring dan bukan ranah teknis.
Menurutnya, proyek ini dikerjakan oleh pihak ketiga dengan sistem Penunjukan Langsung (PL) dan anggaran di bawah Rp200 juta, tepatnya sekitar Rp193 juta.
“Papan informasi dan rambu keselamatan ada di lapangan. Pengerjaannya manual dengan bantuan molen, bukan menggunakan readymix karena nilai paketnya di bawah Rp200 juta. Kalau pakai readymix, panjang jalan yang direncanakan tidak akan tercapai,” jelas Fery.
Ia menambahkan bahwa panjang jalan yang dikerjakan sekitar 153 meter dengan lebar 4 meter dan tebal 0,20 meter, serta mutu beton yang direncanakan adalah Fc’20Mpa.
Mengenai APD, Fery berjanji akan mengoordinasikan dengan pengawas lapangan. Proyek ini dijadwalkan selesai dalam 45 hari kalender.
Pengawas dan PPTK Belum Merespons
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Pengawas Lapangan, Rizwanullah, dan PPTK PUPR, Ariel, tidak memberikan tanggapan.
Kepala Dinas PUPR Garut, Agus Ismail, membenarkan adanya kegiatan rabat beton di ruas jalan tersebut dengan panjang sekitar 400 meter.
Namun, ketika dimintai detail lebih lanjut mengenai pengerjaan manual, ia hanya menjawab singkat, “Nanti disampaikan ke PPTK-nya,” katanya.
Keresahan warga Peundeuy ini menjadi catatan penting bagi Pemkab Garut agar setiap proyek pembangunan, meskipun dengan anggaran terbatas, tetap mengedepankan kualitas dan standar teknis yang memadai demi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
![]()
Penulis : Wawan Uje
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan