Tasikmalaya, MNP – Ketika mendengar nama Tasikmalaya, benak kita langsung terbayang “Kota Santri” dengan jejak pesantren yang dalam dan nafas keislaman yang kental.
Julukan “Mutiara dari Priangan Timur” pun melekat erat, menggambarkan keindahan alam dan kekayaan budayanya.
Namun, di balik identitas yang mapan itu, sebuah revolusi senyap sedang mengubah cara masyarakatnya berinteraksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah kisah bagaimana media digital mentransformasi komunikasi antarbudaya di Tasikmalaya, melampaui batas-batas tradisional menuju era konektivitas global.
Ketika Tasikmalaya Terhubung: Melampaui Batas Fisik dan Budaya.
Dulu, interaksi utama masyarakat Tasikmalaya mungkin terbatas pada pertemuan di masjid, majelis taklim, atau hajatan desa. Kini, pemandangan itu dilengkapi dengan jari-jari yang lincah menari di layar gawai, menjelajahi jagat maya.
Dari para santri yang kini bisa mengakses kajian kitab dari ulama internasional via YouTube, hingga ibu-ibu pengajian yang berbagi tausiah dan resep masakan di grup WhatsApp, media digital telah meruntuhkan sekat-sekat komunikasi dan memperluas jangkauan interaksi.
Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook bukan lagi sekadar arena hiburan. Bagi warga Tasikmalaya, platform ini telah menjadi medium vital untuk menyebarkan informasi, nilai-nilai, dan kearifan lokal.
Bayangkan, video singkat tentang keindahan Gunung Galunggung, atraksi Seni Rajah Tasik, atau syiar Islami kini bisa dengan mudah menjadi viral, menjangkau jutaan pasang mata tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh penjuru dunia.
Ini adalah cara baru bagi Tasikmalaya untuk memperkenalkan diri dan budayanya—tidak hanya kepada warga lokal, tapi juga kepada audiens global yang tertarik dengan kekayaan nusantara.
“Media digital telah menjadi jembatan tak terlihat yang krusial,” jelas Dr. Aisyah Rahmawati, seorang sosiolog budaya dari Universitas Siliwangi.
Ia tak hanya menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka, tetapi juga membuka jendela bagi mereka untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar.
Namun, penting bagi kita untuk selalu kritis dan cerdas dalam menyaring informasi, karena tidak semua yang ada di internet itu representasi kebenaran yang utuh.”
Harmoni dalam Jari: Peluang Emas dan Tantangan Digital
Transformasi ini, layaknya dua sisi mata uang, membawa peluang besar sekaligus tantangan yang harus dihadapi.
Peluang Emas Komunikasi Antarbudaya:
● Promosi Budaya Lokal ke Kancah Global: Seni kerajinan tangan khas Tasikmalaya seperti bordir, mendong, dan kelom geulis, hingga kelezatan kuliner seperti nasi tutug oncom dan baso aci, kini dapat dipromosikan secara luas.
Ini membuka gerbang bagi pariwisata dan investasi, memperkenalkan keunikan Tasikmalaya kepada dunia.
● Dialog Lintas Batas yang Kaya: Media digital memfasilitasi diskusi mengenai isu-isu keagamaan, toleransi, dan masalah global tanpa terhalang batasan geografis.
Ini memperkaya perspektif masyarakat Tasikmalaya dan mempromosikan pemahaman antar budaya yang lebih dalam.
● Edukasi dan Dakwah Inovatif: Konten edukasi agama dan dakwah Islami yang dikemas secara kreatif dan menarik melalui platform digital mampu menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang mungkin jarang menghadiri majelis taklim secara fisik. Ini membantu penyebaran ajaran yang moderat dan inklusif.
Tantangan dalam Pusaran Digital
● Penyebaran Hoax dan Disinformasi: Informasi palsu atau hoax bisa menyebar dengan kecepatan kilat, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, konflik, atau bahkan polarisasi di masyarakat jika tidak diantisipasi dengan literasi digital yang memadai.
● Erosi Nilai Tradisional: Paparan tanpa filter terhadap budaya masing dapat mengikis nilai-nilai lokal atau menimbulkan kebingungan identitas, terutama di kalangan generasi muda, jika tidak diimbangi dengan pemahaman budaya yang kuat dan filter mandiri.
Menjaga “Mutiara” Tetap Bersinar di Tengah Badai Digital
Bagaimana Tasikmalaya bisa memastikan bahwa julukan “Mutiara dari Priangan Timur” tetap relevan dan bersinar terang di tengah gempuran arus digital yang tak terbendung?
● Literasi Digital sebagai Pondasi Kuat: Pendidikan tentang cara menggunakan media digital secara bijak, membedakan informasi yang valid dari yang palsu, serta menjaga etika berkomunikasi online adalah investasi krusial bagi masa depan.
Program literasi digital harus menjangkau semua lapisan masyarakat, dari santri hingga pelaku UMKM.
● Inovasi Konten Lokal yang Relevan: Konten yang merefleksikan kekayaan budaya, nilai-nilai Islami, dan kearifan lokal Tasikmalaya perlu terus diproduksi dengan cara yang kreatif, menarik, dan relevan dengan tren digital saat ini.
Misalnya, melalui vlog, podcast, atau infografis interaktif yang menceritakan kisah-kisah lokal.
● Kolaborasi Lintas Sektor yang Sinergis: Pemerintah daerah, pesantren, komunitas seni dan budaya, akademisi, serta para pegiat digital perlu bersinergi untuk menciptakan ekosistem digital yang positif, inklusif, dan produktif.
Ini bisa diwujudkan melalui pelatihan bersama, festival digital budaya, atau kampanye kesadaran digital.
Seperti yang ditekankan oleh Prof. David Perlmutter dalam bukunya “Digital Communication and Society”, media digital hanyalah sebuah alat netral.
Kekuatan sesungguhnya terletak pada bagaimana kita sebagai masyarakat, secara kolektif, memilih untuk menggunakannya.
Bagi Tasikmalaya, ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa akar tradisi yang kuat dan kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang indah dalam komunikasi antarbudaya di era digital.
![]()
Penulis : Faiq Zaen Mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sahid dan Pegawai Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya









Tinggalkan Balasan