Tasikmalaya, MNP – Seorang pedagang kaki lima nasi Tutug Oncom (T.O) dan nasi cikur bernama Ma Ipah Lugina mendadak viral dan diburu pembeli di Kota Tasikmalaya.
Selain cita rasa masakannya yang khas, kehadiran sang anak yang cantik dan ramah saat membantu berjualan turut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan, Selasa (16/12/2025).
Ma Ipah Lugina (58), warga asli Puspahiang, mengadu nasib ke Kota Tasikmalaya dengan membuka lapak sederhana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baru sekitar satu bulan berjualan, usahanya kini sudah mulai dikenal luas dan berjalan lancar. Saat ini, Ma Ipah tinggal di Kampung Petir RT 03 RW 08, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya.
Dalam kesehariannya, Ma Ipah berjualan ditemani putrinya, Maya (29), yang akrab disapa Amoy oleh para pelanggan. Kehadiran Amoy yang ramah dan cekatan membantu sang ibu membuat lapak nasi T.O ini semakin ramai.
“Kami berjualan dari jam 06.00 sampai 15.00 WIB, dengan harga porsi mulai dari Rp8.000 hingga Rp15.000. Alhamdulillah wasyukurillah, sejak berjualan sebulan lalu bersama anak saya, sekarang sudah hampir masuk dua bulan dan pelanggan makin banyak. Ada yang makan di tempat, ada juga yang pesan lewat Grab,” ujar Ma Ipah kepada awak media.
Lapak Ma Ipah sendiri berada di atas trotoar, yang sejatinya merupakan hak pejalan kaki sesuai Perda Kota Tasikmalaya Nomor 7 Tahun 2005. Saat ditanya terkait kemungkinan penertiban oleh pemerintah daerah, Ma Ipah menyampaikan sikap terbuka.
“Insyaallah saya mau ditertibkan kalau itu memang instruksi langsung dari pemerintah, asalkan difasilitasi dengan baik,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan pengalaman sebelumnya saat pernah ditertibkan dan dipindahkan ke lokasi lapak di dekat Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS). Namun, lokasi tersebut sepi pembeli karena dinilai tidak nyaman.
“Pembeli tidak mau makan dekat tempat sampah, apalagi bau dan rawan penyakit. Jadi tidak nyaman untuk makan,” pungkasnya.
Sementara itu, Amoy (29) mengaku dengan senang hati membantu ibunya setiap hari. Selain melayani pembeli, ia juga aktif mempromosikan dagangan ibunya melalui media sosial, khususnya TikTok.
“Saya sering posting jualan ibu di TikTok. Alhamdulillah, banyak yang datang dan beli karena tahu dari TikTok. Mudah-mudahan jualan ibu semakin laris dan banyak pembeli,” tutup Amoy.
Kisah perjuangan Ma Ipah Lugina bersama sang anak ini menjadi potret nyata semangat UMKM kecil yang terus berjuang, memanfaatkan rasa, keramahan, dan media sosial untuk bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan.
![]()
Penulis : DK
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan