TASIKMALAYA, MNP – Kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Selasa, 20 Oktober 2026, kembali menyingkap persoalan lama yang belum juga terselesaikan.
Di tengah agenda kenegaraan tersebut, kondisi pasar tradisional terbesar di wilayah Priangan Timur itu justru menampilkan wajah kumuh dan infrastruktur yang memprihatinkan.
Pantauan di lapangan menunjukkan, Pasar Cikurubuk masih bergelut dengan persoalan mendasar. Jalan utama di kawasan pasar terlihat rusak, berlubang, dan tidak rata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sejumlah titik, genangan air tampak mengisi lubang jalan, mempersempit akses kendaraan dan pejalan kaki. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Selain kerusakan jalan, persoalan kebersihan juga menjadi masalah yang tak kunjung tertangani.
Tumpukan sampah terlihat di beberapa sudut pasar, bercampur dengan sisa-sisa aktivitas perdagangan. Sistem drainase yang tidak berfungsi optimal membuat kawasan pasar kerap becek, terutama saat hujan turun.
Bau tak sedap pun menjadi pemandangan sehari-hari yang harus dihadapi pedagang dan pengunjung.
Kunjungan Wapres yang berlangsung di tengah padatnya aktivitas jual beli itu seolah menjadi cermin bagi pemerintah daerah.
Pasar Cikurubuk yang seharusnya menjadi etalase ekonomi rakyat justru menunjukkan lemahnya tata kelola dan minimnya perawatan.
Padahal, pasar ini memegang peran strategis sebagai pusat distribusi kebutuhan pokok dan penopang ekonomi masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya.
Para pedagang menyebut kondisi tersebut telah berlangsung lama tanpa perbaikan berarti. Jalan rusak kerap menghambat mobilitas angkutan barang, sementara penataan kios yang semrawut memperparah kesan kumuh.
Situasi ini dinilai menunjukkan belum optimalnya upaya pemerintah daerah dalam membenahi pasar rakyat yang menjadi denyut nadi ekonomi warga.
Di tengah gencarnya wacana revitalisasi pasar tradisional, realitas di Pasar Cikurubuk justru berbanding terbalik.
Hingga kini, belum terlihat langkah konkret yang mampu menjawab persoalan infrastruktur dan kebersihan secara menyeluruh. Pembenahan yang dilakukan cenderung bersifat parsial dan tidak menyentuh akar masalah.
Kehadiran Wapres ke lokasi pasar tersebut seharusnya menjadi momentum evaluasi serius bagi pemerintah daerah. Tanpa perlu pernyataan resmi, kondisi lapangan sudah berbicara banyak tentang pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Pasar Cikurubuk bukan hanya membutuhkan kunjungan pejabat, tetapi komitmen nyata dalam penataan, perbaikan infrastruktur, dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Masyarakat dan pedagang berharap, sorotan ini tidak berhenti sebagai catatan sesaat. Pembenahan Pasar Cikurubuk dinilai mendesak agar pasar tradisional tidak semakin tertinggal dan kehilangan daya saing.
Tanpa langkah tegas dari pemerintah daerah, pasar kebanggaan Kota Tasikmalaya itu dikhawatirkan terus terjebak dalam persoalan yang sama, dari tahun ke tahun.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan