Fenomena Pengangguran Sarjana: Apakah Pendidikan Masih Relevan dengan Kebutuhan Ekonomi?

Selasa, 28 Oktober 2025 - 13:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Forum Diskusi Pendidikan Masyarakat (Fordis) dengan tema “Fenomena Pengangguran Sarjana, Apakah Pendidikan Masih Relevan dengan Kebutuhan Ekonomi?” digelar di Pendopo FKIP Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya, Senin (27/10/2025).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Pendidikan Masyarakat (HIMAPENMAS) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan (HMJ-EP), serta turut melibatkan komunitas Korosa.

Diskusi menghadirkan dua pemantik utama yaitu Ketua Umum HIMAPENMAS, Fauzan Nur Ramadhan, dan Ketua Umum HMJ-EP 2025, dengan moderator Noval Yahya Sabilah Ma’aruf, selaku Wakil Kepala Departemen Akademik dan Penelitian (Akalit) HMJ-EP.

Ketua Pelaksana Fordis Pendidikan Masyarakat 2025, Laila Laitunnaza, menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap fenomena pengangguran sarjana yang semakin meningkat.

“Seru sekali karena teman-teman membahas dari sudut pandangnya masing-masing, apakah mahasiswa nantinya menjadi pengisi jumlah pengangguran atau justru pembuka peluang kerja,” ungkapnya.

“Kalau menurut saya pribadi, pemerintah dan dunia kerja perlu memperluas peluang lapangan kerja di Indonesia,” lanjut Laila.

Sementara itu, Noval Yahya Sabilah Ma’aruf menjelaskan bahwa inti pembahasan mengarah pada perubahan pola pikir lulusan perguruan tinggi.

“Fenomena pengangguran sarjana terjadi karena banyak wisudawan yang memiliki mindset mencari kerja, bukan menciptakan peluang kerja. Ini yang perlu diubah,” tuturnya.

Dari sisi peserta, Silva Septiani (Korosa) menilai forum ini membuka wawasan mahasiswa dalam memahami keterkaitan antara pendidikan dan ekonomi.

Pihaknya melihat dari dua perspektif, mahasiswa dan pemerintah. Bagaimana pemerintah menyikapi kondisi ini dan bagaimana mahasiswa memahami kebutuhan tenaga kerja saat ini.

“Diskusi seperti ini penting untuk menumbuhkan kesadaran agar perubahan dimulai dari diri sendiri,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rezki Ulumudhin, Ketua Pelaksana Fordis x Korosa, yang menegaskan pentingnya keselarasan antara kebijakan pemerintah dan pemahaman mahasiswa.

“Pembahasan ini strategis karena kita membicarakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan ekonomi. Mahasiswa perlu memahami program pemerintah dan menyesuaikan diri agar siap terjun ke masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Lingga Dwi Lestari dari HMJ-EP menambahkan bahwa permasalahan pengangguran sarjana bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

“Kita tidak bisa saling menyalahkan. Pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta harus berkolaborasi untuk membangun ekonomi dan pendidikan agar lulusan siap kerja maupun siap menciptakan lapangan kerja,” tegasnya.

Sebagai penutup, Fauzan Nur Ramadhan, selaku Ketua Umum HIMAPENMAS sekaligus pemantik diskusi, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi pengangguran sarjana.

Hasil diskusi ini kata Fauzan, menyimpulkan bahwa masalah pengangguran sarjana bisa diatasi bersama dengan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, dan sektor lainnya.

“Selain itu, mahasiswa juga harus mampu berinovasi dan menciptakan peluang kerja bagi diri sendiri maupun masyarakat,” pungkasnya.

Forum Diskusi Pendidikan Masyarakat ini menjadi wadah reflektif bagi mahasiswa Unsil untuk meninjau kembali relevansi pendidikan tinggi dengan realitas kebutuhan ekonomi nasional.

Kegiatan diakhiri dengan ajakan agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada mencari pekerjaan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Loading

Penulis : Gobreg

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Istimewa! Bupati Pakpak Bharat Siapkan Hadiah Sepeda Motor, Kawal Anggaran LPTQ di MTQ ke-23
Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Dampingi RSUD dr Soekardjo Susun Clinical Pathway Penyakit Prioritas Nasional 
Kas Daerah Jebol, Kekayaan Bupati dan Sekda Ciamis Disorot Usai Temuan BPK
Kepala Desa Ranca Bungur Contoh Nyata Anti Sinergi Lintas Sektoral di Kab. Bogor
Jelang Sidang Kesimpulan: Peta Tumpang Tindih Lahan Mendadak Muncul, Sikap BPN Bartim Disorot
TMMD ke-128 Garut Ditutup, Warga Malangbong Punya Jalan Baru Setelah 40 Tahun
Pantau Percepatan Penuntasan TBC, Bupati Jeneponto Tekankan Kolaborasi dan Penguatan Layanan
Resmi Ikrar di Tasikmalaya, Yayasan Peduli Kasih Insani Siap Layani Kebutuhan Darah dan Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 22:07 WIB

Istimewa! Bupati Pakpak Bharat Siapkan Hadiah Sepeda Motor, Kawal Anggaran LPTQ di MTQ ke-23

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:55 WIB

Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Dampingi RSUD dr Soekardjo Susun Clinical Pathway Penyakit Prioritas Nasional 

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:37 WIB

Kas Daerah Jebol, Kekayaan Bupati dan Sekda Ciamis Disorot Usai Temuan BPK

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:21 WIB

Kepala Desa Ranca Bungur Contoh Nyata Anti Sinergi Lintas Sektoral di Kab. Bogor

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:46 WIB

Jelang Sidang Kesimpulan: Peta Tumpang Tindih Lahan Mendadak Muncul, Sikap BPN Bartim Disorot

Berita Terbaru