BARITO TIMUR, MNP – Sudah empat bulan langit di Kalimantan Tengah tak lagi biru. Kabut asap menembus celah jendela, membuat napas anak-anak terengah, menambah deretan pasien ISPA di puskesmas.
Kondisi tersebut memaksa para relawan serta regu pemadam bertarung nyawa di tengah panas dan asap tebal. Bahkan ada di antara mereka yang gugur menyisakan kesedihan bagi keluarganya.
Di saat rakyat sedang menahan napas karena asap, dan menahan tangis karena kehilangan, setiap kata yang keluar dari mulut pemimpin seharusnya menenangkan, memberi harapan, dan menunjukkan empati yang tulus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sayangnya, seloroh yang terlontar dari Gubernur Kalimantan Tengah ” Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi” justru terasa jauh dari kepekaan.
Ucapan yang tidak pada tempatnya itu terasa menganggap ringan penderitaan ribuan orang yang berjuang setiap hari agar tetap sehat.
Bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, bagi anak yang batuk tak kunjung reda, bagi relawan yang pulang dengan tubuh kelelahan kata-kata yang tidak peka itu bukan sekadar salah bicara. Itu adalah luka yang diperdalam.
Wajar jika kekecewaan itu akhirnya meluap. Mahasiswa dan LSM menyuarakan protes di jalanan. Kemarahan mereka adalah cermin bahwa harapan mereka kepada negara belum terpenuhi.
Namun di tengah semangat yang membara itu, ada hal penting yang tak boleh ikut terbakar, yaitu etika dan adab.
Sebagian masyarakat menilai, beberapa orasi disampaikan oknum mahasiswa sangat kasar dan tajam. Sebagian orang menyebutnya tidak beradab.
Ketika kata-kata kita melampaui batas kesopanan, pesan yang ingin disampaikan justru tertutup oleh cara penyampaian yang menyakitkan. Kita bisa benar dalam tuntutan, tetapi bisa saja salah dalam cara menyampaikannya.
Kecewa adalah hal yang wajar, karena itu tanda kepedulian. Namun ingatlah, kebenaran yang disampaikan dengan kasar bisa mengalihkan tujuan utama. Hormat kepada orang yang lebih tua dan menjaga tutur kata bukan berarti kita tak berani bersuara.
Justru, kekuatan karakter terlihat saat kita tetap tenang dan berwibawa sekalipun kita sedang marah. Kalian bisa menyuarakan kebenaran tanpa kehilangan keindahan adab. Itulah kemenangan sejati.
Namun pesan terbesar dalam peristiwa ini justru kembali kepada para pemimpin. Jabatan yang melekat pada seseorang bukan sekadar kekuasaan itu adalah amanah sekaligus tanggung jawab moral.
Sebagai figur yang dijadikan teladan, setiap ucapan pemimpin harus dipikirkan dampaknya sebelum terucap. Jika pemimpin sendiri tidak menjaga lisannya di saat rakyat sedang menderita, bagaimana mungkin rakyat bisa menjaga kesabarannya?
Pada akhirnya, bencana asap ini bukan sekadar ujian bagi paru-paru dan lingkungan kita. Ini adalah ujian bagi hati dan budi pekerti kita semua.
Semoga api segera padam, asap segera lenyap, dan langit kembali cerah, pemimpin maupun rakyat bisa saling mendengar, berbicara dengan hati, dan berjalan bersama dengan penuh hormat. Karena di tengah segala perbedaan, yang paling kita butuhkan adalah siapa yang paling bijaksana dalam bertindak.
![]()
Penulis : Adi Suseno
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan