Budaya Harus Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman
TASIKMALAYA, MNP — Semangat pelestarian budaya lokal mewarnai rangkaian kegiatan Tasik Oktober Festival (TOF).
Sebanyak 350 peserta dari kalangan anak-anak, remaja, hingga dewasa ambil bagian dalam pagelaran Pasanggiri, yang menjadi salah satu agenda untuk menjaga eksistensi seni dan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Pelaksana Tasik Oktober Festival (TOF), Jajang Yusuf Hidayat, menegaskan bahwa kegiatan Pasanggiri tidak sekadar menjadi ajang unjuk kemampuan dan kreativitas peserta.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya nyata untuk melestarikan budaya sekaligus menanamkan kecintaan terhadap warisan tradisi kepada generasi muda.
Keterlibatan peserta lintas usia menjadi gambaran bahwa budaya memiliki ruang bagi semua generasi.
Anak-anak, remaja, dan orang dewasa dapat mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan tradisi, sehingga nilai-nilai budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus diwariskan dan dikembangkan.
“Pasanggiri ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Tasik Oktober Festival. Maksud dan tujuannya adalah untuk melestarikan budaya, sekaligus memberikan ruang kepada masyarakat dari berbagai kelompok usia untuk ikut berpartisipasi,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurut Jajang, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama. Tidak cukup hanya menggelar acara seremonial, tetapi harus dibarengi dengan partisipasi masyarakat dan kesempatan bagi generasi penerus untuk mengenal, mempelajari, serta mencintai kebudayaannya sendiri.
Jumlah 350 peserta menjadi salah satu indikator besarnya antusiasme masyarakat terhadap pagelaran Pasanggiri dalam rangkaian TOF.
Keikutsertaan lintas generasi juga membuka peluang terjadinya proses pewarisan nilai budaya secara berkelanjutan.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya luar, kegiatan semacam ini memiliki arti penting.
Identitas budaya daerah perlu dirawat melalui ruang-ruang aktualisasi yang melibatkan masyarakat secara langsung, bukan sekadar melalui slogan pelestarian.
Namun, keberhasilan pelestarian budaya tidak semata-mata diukur dari banyaknya peserta atau meriahnya penyelenggaraan.
Hal yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu membangun ketertarikan generasi muda, menjaga keberlangsungan tradisi, serta mendorong lahirnya kegiatan budaya yang konsisten.
Karena itu, Pasanggiri dalam rangkaian Tasik Oktober Festival diharapkan tidak berhenti sebagai agenda sesaat, melainkan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat identitas budaya daerah.
Melalui TOF, Jajang Yusuf Hidayat bersama panitia pelaksana berupaya menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya.
Antusiasme 350 peserta diharapkan menjadi modal positif untuk terus menghidupkan tradisi dan memastikan warisan budaya tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Budaya bukan sekadar warisan yang dikenang, melainkan identitas yang harus dijaga, dipraktikkan, dan diwariskan.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan