Empangsari Jadi Role Model Toleransi, Pemkot Tasikmalaya Jangan Sekadar Jadi Penonton

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP – Gerak Jalan Santai Toleransi yang digelar Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Di tengah keberagaman masyarakat, kegiatan tersebut menjadi pesan terbuka bahwa kerukunan antarumat beragama harus dirawat melalui perjumpaan, komunikasi, dan kebersamaan yang nyata.

Kegiatan yang melibatkan Kelurahan Empangsari, forum lintas agama, serta berbagai elemen masyarakat itu memperlihatkan bahwa toleransi tidak harus berhenti pada slogan.

Toleransi dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, berjalan bersama, saling menghargai, dan membangun ruang sosial yang memungkinkan seluruh warga merasa menjadi bagian dari Kota Tasikmalaya.

Lurah Empangsari, H. Erik Hendarsah A.Md mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen pihak kelurahan bersama forum lintas agama untuk terus menjaga dan merawat kerukunan masyarakat.

“Kegiatan hari ini dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Kami bersama forum lintas agama mengadakan gerak jalan santai toleransi sebagai upaya menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama, khususnya di wilayah Kelurahan Empangsari,” ujar H. Erik.

Dirinya menyebut, Kelurahan Empangsari juga mendapatkan kepercayaan untuk menjadi kelurahan toleransi dan role model bagi Jawa Barat.

Namun, predikat tersebut menurutnya bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab untuk memastikan toleransi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat.

Empangsari memiliki karakter masyarakat yang beragam. H. Erik menyebut terdapat lima gereja, satu wihara, dan satu klenteng di wilayah kelurahan tersebut.

“Empangsari merupakan salah satu pusat kegiatan masyarakat non-Muslim di Kota Tasikmalaya. Alhamdulillah, saudara-saudara kita dari kalangan non-Muslim menyambut baik setiap kegiatan yang berkaitan dengan kerukunan dan toleransi antarumat beragama,” katanya.

Semangat serupa disampaikan seorang Romo dari Gereja Katolik yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku bahagia dapat berjalan bersama sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

Menurutnya, keberagaman agama tidak seharusnya menjadi tembok pemisah dalam membangun persaudaraan.

“Dengan jalan bersama ini saya sungguh berbahagia. Kita semua menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Saya semakin bersyukur karena teman-teman Muslim kembali kepada hakikat suci Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, dan itu yang memungkinkan kita berjalan bersama,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan yang diinisiasi Kelurahan Empangsari tersebut tidak berhenti sebagai agenda sesaat.

“Semoga ke depannya kita terus bersatu, berjalan bersama, mengembangkan kebaikan dan persaudaraan sesama warga Indonesia,” tuturnya.

Pemkot Tasikmalaya Perlu Menjadikan Empangsari sebagai Contoh
Apa yang dilakukan Kelurahan Empangsari semestinya tidak hanya diapresiasi, tetapi juga dipelajari dan direplikasi oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam skala yang lebih luas.

Kritik konstruktifnya sederhana: jika toleransi ingin menjadi identitas Kota Tasikmalaya, maka pemerintah daerah jangan hanya hadir ketika terjadi persoalan atau ketika ada momentum peringatan tertentu.

Pemerintah perlu membangun program toleransi yang berkelanjutan, terukur, dan melibatkan masyarakat lintas agama secara langsung.

Model yang dibangun Empangsari dapat menjadi salah satu referensi. Pemerintah Kota Tasikmalaya dapat mendorong kegiatan serupa di kelurahan lain, memperkuat forum lintas agama, membuka ruang dialog rutin, serta menjadikan toleransi sebagai bagian dari program pembangunan sosial kemasyarakatan.

Sebab, predikat sebagai kota yang toleran tidak cukup dibangun melalui narasi. Toleransi harus terlihat dalam kebijakan, pelayanan publik, interaksi sosial, dan keberanian pemerintah membuka ruang yang setara bagi seluruh warga.

Jika Empangsari mampu membangun kebersamaan dari tingkat kelurahan, maka Pemerintah Kota Tasikmalaya seharusnya dapat mengambil peran lebih besar dengan menjadikan praktik baik tersebut sebagai gerakan bersama tingkat kota.

Momentum Kemerdekaan RI ke-81 memberikan ruang refleksi bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang memastikan seluruh warga dapat hidup berdampingan secara damai.

Berbeda keyakinan tidak berarti berbeda dalam hal kemanusiaan. Berbeda rumah ibadah tidak berarti berbeda dalam hak sebagai warga negara. Dan perbedaan pilihan keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi rasa persaudaraan.

Karena itu, Gerak Jalan Santai Toleransi Empangsari patut dilihat sebagai praktik baik yang perlu diperluas, bukan sekadar kegiatan kelurahan.

Pemerintah Kota Tasikmalaya diharapkan tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi berani menjadikan semangat Empangsari sebagai inspirasi untuk membangun gerakan toleransi di seluruh wilayah kota.

Empangsari telah memulai dari langkah kecil: berjalan bersama. Kini tantangannya adalah bagaimana langkah itu bisa menjadi gerakan bersama seluruh Kota Tasikmalaya.

Jika konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin Kota Tasikmalaya mampu menunjukkan kepada Jawa Barat dan Indonesia bahwa keberagaman bukan ancaman bagi persatuan, melainkan modal sosial untuk membangun kota yang damai, inklusif, dan bermartabat.

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Polisi Amankan 991 Ekor Burung Tanpa Dokumen di Pelabuhan Bakauheni
Vibrasi Voice Inside Bars: Wadah Kreativitas dan Seni Musik Warga Binaan Rutan Jakarta Pusat
Ketika Sejarah dan Pengabdian Lintas Generasi Menyatu di Hari Juang Polri 2026
GMNI Preteli Dinsos Kota Tasikmalaya, Ada Kongkalikong di Anggaran 2025?
Anniversary ke-1 Ikatan Maxim Driver Tasikmalaya, Diky Chandra Apresiasi Kebersamaan Pengemudi Ojol
Proyek Rp24 Miliar di Lampung Selatan Diduga Pakai Material Lama, Dasar Teknisnya Dipertanyakan
Menteri LH dan Guru Besar Kehutanan Cek Karhutla di Kampar, Kapolda Paparkan Dashboard Green Policing
Lautan Merah Putih di Awipari Tasikmalaya: Ribuan Warga Bersatu Padu Rayakan HUT RI ke-81

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:30 WIB

Polisi Amankan 991 Ekor Burung Tanpa Dokumen di Pelabuhan Bakauheni

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Vibrasi Voice Inside Bars: Wadah Kreativitas dan Seni Musik Warga Binaan Rutan Jakarta Pusat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Ketika Sejarah dan Pengabdian Lintas Generasi Menyatu di Hari Juang Polri 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:51 WIB

GMNI Preteli Dinsos Kota Tasikmalaya, Ada Kongkalikong di Anggaran 2025?

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:19 WIB

Empangsari Jadi Role Model Toleransi, Pemkot Tasikmalaya Jangan Sekadar Jadi Penonton

Berita Terbaru

Berita terbaru

Polisi Amankan 991 Ekor Burung Tanpa Dokumen di Pelabuhan Bakauheni

Sabtu, 22 Agu 2026 - 21:30 WIB