TASIKMALAYA, MNP — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Cisayong bersama Pondok Pesantren Idrisiyyah menggelar pengajian umum Yaumul Ijtima yang dirangkaikan dengan halal bihalal di lingkungan Pesantren Tarekat Idrisiyyah, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan rutin bulanan tersebut dihadiri ratusan jemaah Nahdliyin, tidak hanya dari Kecamatan Cisayong, tetapi juga dari sejumlah kecamatan di wilayah Tasikmalaya bagian utara.
Hadir pula unsur pemerintah daerah, di antaranya Asisten Daerah I Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Dr. H. Rubi Azhara, yang mewakili Bupati Tasikmalaya, Camat Cisayong, serta unsur Forkopimcam lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, turut hadir jajaran pengurus MUI , Pengurus Jam’iyyah Ahli Thariqoh Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN) dari Kabupaten dan Kota Tasikmalaya serta pengurus Nahdlatul Ulama wilayah Tasik Utara
Dalam sambutannya, Rubi Azhara mengapresiasi konsistensi pelaksanaan pengajian Yaumul Ijtima sebagai sarana penguatan umat.
Menurutnya, kegiatan keagamaan yang berkelanjutan dapat menjadi benteng moral masyarakat sekaligus berdampak positif terhadap stabilitas sosial dan pembangunan daerah.
“Pengajian seperti ini menjadi kekuatan umat dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya,” ujarnya.
Tausiyah disampaikan oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Rois Idaroh Aliyah di Jam’iyyah Ahli Thariqoh Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN).
Mengawali tausiyahnya, ia mengutip sya’ir Imam Syafi’i tentang pentingnya keseimbangan antara fikih dan tasawuf:
“Barang siapa belajar fikih tanpa tasawuf, maka ia menjadi fasik. Dan barang siapa belajar tasawuf tanpa fikih, maka ia menjadi zindik. Barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia mencapai kebenaran.”
Syekh Akbar menjelaskan, fikih mengatur aspek lahiriah ibadah—bagaimana tata cara yang benar sesuai syariat—sementara tasawuf membimbing aspek batiniah, yakni keikhlasan, kesucian hati, dan kedekatan dengan Allah. Keduanya harus berjalan beriringan agar ibadah tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Dalam ceramahnya, ia juga menekankan pentingnya thaharah atau kebersihan dan kesucian sebagai fondasi utama sahnya ibadah. Menurutnya, kebersihan dalam Islam tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga mencakup kebersihan batin.
Ia menegaskan bahwa hati yang bersih dari sifat-sifat tercela seperti riya, hasad, dan takabbur menjadi kunci diterimanya amal ibadah. Lebih jauh, konsep thaharah juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Kebersihan diri akan membentuk karakter manusia yang peduli terhadap lingkungan.
“Seorang muslim tidak cukup hanya menjaga kesucian dirinya sendiri, tetapi juga harus mampu menjaga kebersihan lingkungannya. Dari sinilah lahir pribadi yang membawa nilai rahmatan lil ‘alamin, menebarkan kebaikan bagi sesama,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika nilai-nilai tersebut tertanam kuat, maka akan menjadi modal utama dalam membangun kekuatan bangsa. Masyarakat yang bersih secara lahir dan batin akan melahirkan budaya disiplin, kepedulian, serta semangat gotong royong.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang menekankan pentingnya penyucian jiwa melalui tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli sebagai jalan menuju kesempurnaan akhlak.
Syekh Akbar juga mengingatkan pentingnya menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai benteng utama warga Nahdlatul Ulama, baik dalam praktik ibadah maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, Ketua MWC NU Cisayong, Abdul Kohar, S.Sy., mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga dan memperkuat akidah Aswaja melalui berbagai program berkelanjutan.
Selain Yaumul Ijtima yang digelar rutin setiap bulan secara bergilir ke desa-desa, juga dilaksanakan pengajian khusus bagi kiai dan santri melalui program Ngahikmah (Ngaji Hikam dan I’anah) di Pesantren Idrisiyyah.
Ia menegaskan bahwa sinergi yang dibangun bersama Pesantren Idrisiyyah dalam menjaga Aswaja merupakan kelanjutan dari program yang telah digagas oleh ketua MWC NU Cisayong sebelumnya, almarhum Kyai Jajang Abdurrahman.
“Kerja sama ini bukan hal baru, tetapi merupakan ikhtiar berkelanjutan yang kami teruskan dari kepemimpinan sebelumnya. Apa yang telah dirintis oleh almarhum menjadi fondasi kuat bagi kami untuk terus menjaga dan memperkokoh akidah Aswaja di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, A’wan MWC NU Cisayong, Septyan Hadinata, turut mengapresiasi berbagai program kerja MWC NU Cisayong, khususnya dalam membangun kerja sama penguatan Aswaja bersama Pesantren Idrisiyyah.
Ia menilai, pengurus MWC NU Cisayong tidak hanya berhasil dalam penguatan internal keagamaan, tetapi juga mampu membangun sinergitas dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah di tingkat Kecamatan Cisayong.
Septyan menyebut, MWC NU Cisayong telah mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kekuatan moral masyarakat serta keutuhan persatuan dan kesatuan.
“Inilah bentuk nyata nilai-nilai Aswaja yang tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara ulama, umara, dan masyarakat merupakan kunci dalam menjaga stabilitas sosial “Stabilitas sosial (social stability).
“Dalam perspektif agama adalah terwujudnya al-amn dan maslahah, yaitu kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan membawa kebaikan bersama.” serta memperkuat fondasi kebangsaan di tengah tantangan zaman,” pungkasnya.
Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan sosial-keagamaan dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni dan toleransi di tengah keberagaman. Nilai-nilai Aswaja yang moderat sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam merawat persatuan bangsa.
![]()
Penulis : Ist
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan