Tasikmalaya, MNP — Proyek revitalisasi kawasan wisata Situ Gede Kota Tasikmalaya yang menelan anggaran sekitar Rp8 miliar dan digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini menuai polemik.
Meski bangunan baru berdiri megah di lokasi yang sangat strategis, para pedagang justru memilih bertahan di bangunan lama yang mereka dirikan sendiri, meskipun keberadaannya dinilai mengganggu keindahan kawasan wisata tersebut.
Revitalisasi Situ Gede sejatinya dirancang untuk mempercantik kawasan wisata unggulan Tasikmalaya sekaligus menata area perdagangan agar lebih tertib dan nyaman bagi pengunjung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun setelah proyek rampung, bangunan baru yang diharapkan menjadi pusat kuliner dan aktivitas ekonomi justru belum dimanfaatkan secara optimal. Area itu kini tampak sepi dan kosong tanpa kegiatan perdagangan.
Ketua GAPURA (Garuda Pusaka Nusantara), Tatang Sutarman, menyoroti kondisi tersebut dan menyayangkan jika bangunan hasil revitalisasi bernilai miliaran rupiah itu hanya menjadi pajangan tanpa fungsi.
Ia menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret agar fasilitas yang sudah dibangun bisa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Kalau bangunan ini tetap kosong dan pemerintah tidak mau bertanggung jawab, sebaiknya bangunan tersebut dikelola secara gratis. Siapa saja yang mau mengisi, silakan daftar. Daripada mubazir,” ujar Tatang pada Minggu (09/11/2025).
Menurut Tatang, langkah memberikan kesempatan kepada masyarakat atau pelaku usaha untuk memanfaatkan bangunan tersebut secara gratis akan jauh lebih bermanfaat dibanding membiarkannya terbengkalai.
“Daripada bangunan ini kosong dan tidak terurus, lebih baik digratiskan saja untuk sementara waktu. Buka pendaftaran secara terbuka, biar masyarakat yang mau berusaha bisa menghidupkan kawasan ini,” tambahnya.
Ia juga menilai bahwa alasan sebagian pedagang enggan pindah ke bangunan baru bukan karena lokasi yang buruk, melainkan karena belum ada sistem pengelolaan yang jelas.
Padahal, bangunan baru itu berada di lokasi yang sangat strategis dan dekat dengan jalur utama wisatawan yang datang ke Situ Gede.
“Pedagang sebenarnya mau pindah kalau ada kepastian. Kalau dikelola dengan baik dan ramai, pasti mereka ikut. Tapi kalau tidak ada aktivitas, ya mereka bertahan di tempat lama,” katanya.
Sementara itu, warga sekitar menilai keberadaan bangunan liar yang masih digunakan pedagang di sekitar danau justru merusak pemandangan dan menurunkan nilai estetika kawasan wisata.
Mereka berharap ada langkah penertiban yang dilakukan secara adil dan persuasif tanpa merugikan pedagang kecil.
Masyarakat pun mendesak agar Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya segera turun tangan melakukan penataan ulang kawasan Situ Gede.
Diharapkan pemerintah bisa mencari solusi terbaik agar bangunan hasil revitalisasi dapat difungsikan dan menjadi pusat kegiatan ekonomi warga.
Revitalisasi kawasan wisata tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan kehidupan ekonomi dan keteraturan sosial di dalamnya.
Jika tidak segera dimanfaatkan, bangunan senilai Rp8 miliar itu dikhawatirkan hanya menjadi “monumen kosong” yang kehilangan makna di tengah potensi besar Situ Gede sebagai destinasi wisata unggulan Tasikmalaya.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan