Sohibul Iman Soroti Ancaman Konten Instan di Era Digital: Medsos Harus Mencerdaskan, Bukan Melumpuhkan Daya Kritis

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP – Kemajuan teknologi digital semestinya menjadi jalan untuk meningkatkan kecerdasan, kreativitas, dan produktivitas masyarakat.

Namun, ketika media sosial lebih banyak digunakan untuk mengonsumsi konten serba singkat, mengejar sensasi, dan menerima informasi tanpa proses verifikasi, kemajuan tersebut justru menyisakan tantangan serius bagi kualitas sumber daya manusia.

Persoalan itu menjadi salah satu sorotan H. Mohamad Sohibul Iman, M.Sc., Ph.D., Anggota Komisi I DPR RI, dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Media Sosial untuk Hal Positif: Berkarya, Berbisnis, dan Berkolaborasi dengan Aman” yang berlangsung di Hotel Cordela Tasikmalaya, Senin (12/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni H. Mohamad Sohibul Iman, Dr. Ir. Irawati Tjipto Prianti, MT, selaku Direktur Penyidikan Digital, serta Yudi Baretto, konten kreator sekaligus food vlogger.

Sosialisasi ini menjadi ruang edukasi mengenai pentingnya memanfaatkan media sosial secara positif, produktif, dan aman di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, Sohibul Iman mengingatkan bahwa media sosial kini telah menjadi bagian penting dalam komunikasi dan interaksi masyarakat.

Kehadirannya membuka peluang besar untuk menyebarkan pengetahuan, mengembangkan usaha, membangun jejaring, serta menghasilkan karya kreatif.

Namun, menurutnya, teknologi juga memiliki dua sisi. Manfaatnya dapat dirasakan ketika digunakan secara tepat, tetapi berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila masyarakat tidak mampu mengendalikan pola penggunaannya.

Ia menyoroti sejumlah penelitian yang disebut menunjukkan kecenderungan penurunan kemampuan kognitif pada generasi yang lebih muda dibandingkan generasi sebelumnya.

Fenomena tersebut, menurutnya, patut menjadi bahan refleksi di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Teknologi yang demikian melimpah tidak selamanya membuat kita menjadi jauh lebih cerdas, kreatif, dan inovatif ketika kita tidak menggunakannya secara tepat,” tegas Sohibul Iman dalam sambutannya.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan literasi digital bukan sekadar pada kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan aplikasi.

Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana masyarakat tetap mampu berpikir kritis, memahami informasi secara mendalam, dan mengambil keputusan secara mandiri di tengah kemudahan akses digital.

Meski demikian, klaim mengenai penurunan IQ antargenerasi perlu dibaca secara hati-hati dan didukung penelitian yang jelas.

Penggunaan media sosial maupun konten berdurasi pendek tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suatu generasi memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah.

Sohibul Iman juga menyoroti kebiasaan generasi muda yang setiap hari berhadapan dengan begitu banyak konten digital, termasuk video berdurasi pendek yang terus berganti.

Menurutnya, paparan konten yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi persoalan apabila membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mempelajari suatu topik secara mendalam.

Ia menilai kemampuan fokus, konsentrasi, dan analisis perlu terus dipelihara agar masyarakat tidak terbiasa menerima informasi secara instan tanpa memahami konteks maupun kebenarannya.

Dalam lingkungan digital yang bergerak cepat, seseorang dapat mengetahui banyak hal dalam waktu singkat. Akan tetapi, mengetahui potongan informasi tidak selalu sama dengan memahami persoalan secara utuh.

Di sinilah pentingnya membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, membandingkan sumber, dan memeriksa fakta.

Media sosial seharusnya memperluas cakrawala pengetahuan, bukan membuat penggunanya berhenti pada informasi sepotong-sepotong.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar luas hanya melalui satu kali unggahan atau penerusan pesan.

Selain pola konsumsi konten, Sohibul Iman turut mengingatkan masyarakat agar bijaksana menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, ketergantungan berlebihan terhadap berbagai aplikasi teknologi dapat menjadi tantangan apabila pengguna menyerahkan seluruh proses berpikir kepada sistem digital.

Padahal, AI dapat membantu manusia mencari informasi, menyusun gagasan, mengembangkan kreativitas, dan meningkatkan efisiensi pekerjaan. Persoalannya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara manusia memanfaatkannya.

Pengguna tetap perlu memeriksa kebenaran jawaban, menilai relevansi informasi, serta memastikan hasil yang diperoleh tidak menyesatkan.

Teknologi seharusnya memperkuat kemampuan manusia dalam memecahkan persoalan, bukan menghilangkan kebiasaan berpikir mandiri.

Dalam konteks pendidikan, pekerjaan, maupun produksi konten, kemampuan menggunakan AI perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab, etika, dan kecakapan mengevaluasi informasi.

Dengan demikian, kecanggihan teknologi tidak hanya menghasilkan pekerjaan yang lebih cepat, tetapi juga tetap menjaga kualitas hasil dan integritas penggunanya.

Kehadiran Dr. Ir. Irawati Tjipto Prianti, MT, selaku Direktur Penyidikan Digital, serta Yudi Baretto, konten kreator sekaligus food vlogger, melengkapi kegiatan edukasi yang mengangkat peluang dan tantangan pemanfaatan ruang digital.

Ketiganya hadir dalam forum yang mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya, membangun usaha, dan memperluas kolaborasi.

Dalam konteks tersebut, keamanan digital dan tanggung jawab pengguna menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari produktivitas.

Masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga data pribadi, menghindari penipuan digital, mengenali informasi menyesatkan, serta mempertimbangkan dampak sebelum mengunggah atau menyebarkan suatu konten.

Media sosial yang sehat tidak cukup dibangun melalui kecanggihan teknologi maupun banyaknya pengguna.

Diperlukan pula kesadaran untuk menghormati privasi, menjaga etika komunikasi, dan tidak menjadikan ruang digital sebagai sarana menyebarkan kebencian atau informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Tantangan terbesar era digital bukan semata-mata bagaimana manusia menguasai teknologi, melainkan bagaimana manusia tetap mampu mengendalikan teknologi agar bekerja untuk kepentingan yang lebih besar.

Pesan utama yang mengemuka dalam Sosialisasi Merajut Nusantara di Tasikmalaya adalah pentingnya mengarahkan media sosial menjadi sarana yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Sohibul Iman berharap teknologi digital dapat meningkatkan produktivitas kerja sekaligus memperluas penyebaran informasi positif di tengah masyarakat.

Harapan tersebut perlu diwujudkan melalui kebiasaan sederhana tetapi mendasar: memeriksa fakta sebelum membagikan informasi, menggunakan teknologi secara proporsional, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan menghasilkan konten yang bermanfaat.

Bagi pelaku usaha, media sosial dapat menjadi sarana promosi dan perluasan pasar. Bagi generasi muda, ruang digital dapat menjadi tempat belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi.

Sementara bagi masyarakat luas, teknologi dapat memperkuat kolaborasi serta memperluas akses terhadap informasi dan peluang ekonomi.

Namun, edukasi semacam ini akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada penyampaian materi tanpa diikuti penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan literasi digital semestinya tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang memahami istilah teknologi, tetapi juga dari kemampuan mereka menggunakan teknologi secara aman, kritis, produktif, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, media sosial bukan sekadar tempat mengejar popularitas atau menghabiskan waktu. Ruang digital memiliki potensi besar untuk melahirkan inovasi dan meningkatkan kesejahteraan, selama penggunanya tidak kehilangan kendali atas cara berpikir dan bertindak.

Teknologi boleh semakin canggih, informasi boleh semakin cepat, tetapi nalar kritis, tanggung jawab, dan kebijaksanaan manusia harus tetap menjadi penentu arah penggunaannya.

 

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Lumiland Dadaha, Suguhkan 5 Juta Lampu, Potensi Jadi PAD Kota Tasikmalaya
Daya Tarik Festival Lumiland Dadaha Potensi Penyumbang PAD Kota Tasikmalaya
Kepala SMPN 1 Petarukan: Pramuka Bukan Sekadar Ekskul, Tapi Pembentuk Karakter
H. Rana Nur Alamsyah: Fun Bike TOF 2026 Bukan Sekadar Gowes, Momentum Pererat Silaturahmi Warga
Elis Lisnawati: Pelaku Budaya Jangan Hanya Dibutuhkan, Pemerintah Harus Hargai dan Didukung Merata
Di Milangkala ke-9 Sabodo Debus Extreme, Budayawan Minta Pemerintah Serius Lestarikan Seni Sunda
Fun Bike Gowes Bareng Pemuda Tasik dan BSS Meriahkan Milangkala ke-25 Kota Tasikmalaya
Penghasilan Nelayan Pangandaran Turun, Faktor Harga Pasar Jadi Pemicu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Sohibul Iman Soroti Ancaman Konten Instan di Era Digital: Medsos Harus Mencerdaskan, Bukan Melumpuhkan Daya Kritis

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Lumiland Dadaha, Suguhkan 5 Juta Lampu, Potensi Jadi PAD Kota Tasikmalaya

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Daya Tarik Festival Lumiland Dadaha Potensi Penyumbang PAD Kota Tasikmalaya

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:19 WIB

Kepala SMPN 1 Petarukan: Pramuka Bukan Sekadar Ekskul, Tapi Pembentuk Karakter

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:48 WIB

H. Rana Nur Alamsyah: Fun Bike TOF 2026 Bukan Sekadar Gowes, Momentum Pererat Silaturahmi Warga

Berita Terbaru