Tasikmalaya, MNP – Perbaikan dan peninggian Jalan AH Nasution di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, seharusnya menjadi kabar baik bagi masyarakat. Jalan yang sebelumnya kerap tergenang kini tampak lebih tinggi, lebih rapi, dan bebas banjir.
Namun alih-alih menyelesaikan masalah, proyek ini justru menghadirkan persoalan baru yang tak kalah serius: banjir yang selama ini berada di jalan utama kini “dipindahkan” ke permukiman warga Gunung Kondang.
Inilah potret klasik pembangunan yang kerap terjadi: ketika satu titik diperbaiki, titik lain justru menjadi korban. Warga Gunung Kondang kini harus menghadapi kenyataan bahwa rumah dan halaman mereka berubah menjadi jalur limpasan air setiap kali hujan deras turun. Dan ironisnya, masalah ini bermula dari proyek yang seharusnya menyelesaikan banjir, bukan memindahkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah inti terletak pada perencanaan drainase yang tampak tidak mempertimbangkan kondisi topografi lingkungan sekitar.
Peninggian badan jalan dan saluran memang efektif membuat air tidak menggenangi jalan, tetapi elevasi drainase yang lebih tinggi dari permukiman membuat air kehilangan jalurnya untuk mengalir ke titik pembuangan.
Air memilih jalur termudah: masuk ke kawasan hunian yang berada di kontur lebih rendah. Jika dianalisa, kesalahan teknis ini sangat mendasar. Dalam setiap proyek jalan, harmonisasi elevasi antara badan jalan, saluran, dan permukiman adalah hal yang wajib. Tanpa itu, aliran air akan terganggu dan menyebabkan genangan baru.
Di Gunung Kondang, gejala itu sudah terlihat jelas: air tidak lagi mengalir ke saluran utama sebagaimana mestinya, tetapi melimpas secara horizontal menuju rumah-rumah warga.
Warga pun menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka harus berjibaku dengan air yang tiba-tiba masuk ke lingkungan rumah, merusak fasilitas, perabot, bahkan mengancam kesehatan. Setiap hujan deras menjadi ancaman baru, bukan lagi sekadar fenomena alam yang bisa diantisipasi.
Situasi ini menjadi kritik penting bagi pihak-pihak terkait agar tidak sekadar mengerjakan proyek bersifat kosmetik: bagus di permukaan, tetapi mengabaikan dampak jangka panjang. Peninggian jalan memang memperlihatkan hasil fisik yang jelas—jalannya lebih tinggi, lebih mulus, dan tidak tergenang.
Namun keberhasilan sebuah proyek tidak hanya dilihat dari hasil visual, tetapi juga dari apakah proyek tersebut memberi manfaat bagi keseluruhan lingkungan.
Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlanjut. Banjir bukan sekadar masalah genangan air; ia adalah cermin dari perencanaan yang tidak menyeluruh.
Penyebab banjir di Gunung Kondang bukanlah curah hujan semata, tetapi sistem drainase yang tidak sinkron. Proyek perbaikan jalan seharusnya disertai analisis dampak lingkungan sederhana, terutama terkait alur air.
Kedepan, pemerintah harus meninjau ulang perencanaan drainase di titik-titik rawan. Solusi seperti menurunkan elevasi saluran, membuat jalur pembuangan baru, atau mengembalikan pola aliran air seperti sebelum proyek, perlu dipertimbangkan serius. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi tanggung jawab moral terhadap warga yang terdampak.
Banjir tidak boleh hanya dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain. Penanganannya harus tuntas, menyeluruh, dan berpihak pada keselamatan warga. Sebab pembangunan yang baik bukan hanya yang terlihat indah, tetapi yang benar-benar menyelesaikan masalah dari akarnya.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan